.
.

Download Film Gratis; Black Hawk Down + Subtitle Indonesia

Selasa, 15 April 2014

Download Film Gratis - Black Hawk Down + Subtitle Indonesia


Source: BRRip
Released: 2001
Country: USA | UK
Language: English | Somali
Genre: Drama | Thriller | History | War
Director: Ridley Scott
Writers: Mark Bowden (book),  Ken Nolan (screenplay)
Starcast: Josh Hartnett, Eric BanaEwan,  McGregor, Tom Sizemore, William: Fichtner, Tom Hardy, Orlando Bloom










Preview

Black Hawk Down  merupakan film layar lebar ke-11 yang disutradarai oleh Ridley Scott tahun 2001. Karena penggarapannya yang serius pada film ini sehingga mengantarkan Black Hawk Down ke pentas Oscar 2002 dengan mengantungi 4 nominasi. Dari 4 nominasi yang didapatkan, ia berhasil membawa pulang dua piala Oscar, yaitu menang kategori Best Editing dan Best Sound. Dua kategori gagal dimenangkan, yaitu Best Cinematography dan yang paling diinginkan oleh semua sutradara, Best Director.

Sebagai informasi, di tahun 2001 itu juga, Ridley mengeluarkan karyanya yang lain, Hannibal yang dibintangi Anthony Hopkins dan Julianne Moore. Sayangnya tak seperti Black Hawk Down, film yang cukup dipuji kritikus itu tak mengantungi satu pun nominasi.

Kembali ke Black Hawk Down, film yang dibuat berdasarkan kejadian nyata ini dibukukan oleh seorang penulis bernama Mark Bowden dengan judul Black Hawk Down: A Story of Modern War. Buku ini menggambarkan sengitnya pertempuran Mogadishu di mana sekelompok pasukan Amerika Serikat melakukan penyerbuan untuk menangkap penguasa Somalia, Mohamed Farrah Aidid.

Dengan sandi operasi berjuluk Irene, Jenderal Garrison (Sam Shepard) mengetuai serangan yang dilakukan oleh pasukan Delta, Ranger dan Resimen Operasi Khusus ke-160 dengan misi menangkap para kaki tangan dan bawahan penting dalam pemerintahan Farrah Aidid.

Serangan ini dipusatkan pada pasar Bakara, tempat yang dicurigai berkumpulnya orang-orang penting di bawah Aidid. Jenderal Garrison memperkirakan bahwa misi ini akan berlangsung tidak lebih dari setengah jam dengan membawa hasil yang diinginkan.

Pasukan Ranger yang dipimpin oleh Sersan Matt Eversmann (Josh Hartnett) diberi tugas untuk menyelesaikan misi ini dan diberi pesan agar jangan seorang pun dari pasukan yang ditinggalkan di medan pertempuran. Namun misi tak berjalan dengan mulus dan melenceng dari perkiraan semula.

Semuanya diawali oleh jatuhnya Pratu Todd Blackburn (Orlando Bloom) sewaktu akan melakukan penurunan dari helikopter. Serangan dengan persenjataan berat oleh para milisi Somalia kepada mereka semakin mempersulit misi tersebut. Korban dari pihak militer Amerika Serikat dan milisi mulai berjatuhan. Semuanya semakin diperparah dengan jatuhnya helikopter pemberi bantuan udara yaitu Black Hawk setelah dihantam dengan tembakan peluru roket dari pasukan milisi. Situasi pun semakin memanas dan runyam setelah satu helikopter kembali jatuh.

Misi yang semula diperkirakan berlangsung cepat dan singkat seketika berubah menjadi mimpi buruk yang tak bisa dibayangkan. Namun sesuai pesan yang diberikan pada mereka bahwa tak boleh ada yang ditinggalkan, mereka pun menuju ke lokasi jatuhnya kedua helikopter untuk mengevakuasi pilot dan awak yang ada di dalamnya. Dua orang penembak jitu dari pasukan Delta, Randy Shughart dan Gary Gordon akhirnya gugur dalam tugas setelah berusaha menyelamatkan salah seorang pilot yang selamat. Keduanya dianugerahi Medali Kehormatan Anumerta.

Sementara itu para prajurit yang memiliki sifat yang berbeda-beda harus bahu-membahu menyelamatkan rekan mereka yang terjebak dalam pertempuran yang berlangsung sepanjang malam.

Di Balik Produksi Black Hawk Down Film yang meraih pendapatan sebesar US$108 juta dolar lebih ini pada awalnya merupakan gagasan sutradara Simon West yang menyarankan produser Jerry Bruckheimer untuk membeli hak cipta buku Black Hawk Down: A Story of Modern War buah karya Mark Bowden dan mengijinkan West untuk menyutradarai jika filmnya dibuat.

Namun akhirnya West beralih ke proyek lain di mana dia lebih tertarik menyutradarai film yang diadapsi dari sebuah video game terkenal. Judul film itu adalah Lara Croft: Tomb Raider (2001). Film pun kemudian diserahkan penanganannya pada Ridley Scott. Agar tampak terlihat nyata, para aktor pun diberikan pelatihan militer yang sebenarnya untuk menghayati peran yang mereka mainkan.

Para aktor yang berperan sebagai anggota pasukan Delta pun diberikan pelatihan selama dua minggu, khususnya para aktor yang berperan sebagai pilot. Sebagai informasi bahwa pelatihan pilot ini diarahkan oleh Mike Durant yang asli sendiri di mana dia memang pernah ditawan selama beberapa hari oleh milisi Somalia dan akhirnya dibebaskan.

Film pun mengambil lokasi syuting bukan di Somalia, tapi di Rabat dan Sale, Maroko. Tak satu pun aktor atau orang Somalia yang terlibat dalam pembuatan film ini. Film Black Hawk Down sendiri ditaburi oleh banyak bintang besar yang berperan sebagai tentara Amerika Serikat. Namun mereka sendiri berasal dari berbagai negara di belahan dunia: Ewan McGregor sebagai John Grimes berasal dari Skotlandia, Eric Bana sebagai Sersan Hoot berasal dari Austria, Jason Issacs yang kita kenal lewat perannya sebagai Lucius Malfoy di franchise Harry Potter dan si peri Orlando Bloom di trilogi Lord of the Rings berasal dari Inggris, Kim Coates dari Kanada, dan masih banyak lagi yang lainnya yang mungkin kalian kenal dalam film ini.

Battle of Mogadishu Pertempuran Mogadishu (Battle of Mogadishu) merupakan bagian dari Operation Gothic Serpent yang berlangsung pada tanggal 3 dan 4 Oktober 1993 di Mogadishu, Somalia, antara pasukan Amerika Serikat yang dibantu oleh UNOSOM II dan pasukan milisi Somalia yang setia pada penguasa Mohamed Farrah Aidid yang mendapat dukungan dari pejuang rakyat sipil bersenjata.

Di bawah arahan Jenderal William F. Garrison, operasi ini dilakukan untuk menagkpa para pemimpin suku Habr Gid yang diketuai oleh Mohamed Farrah Aidid sendiri. Pasukan tersebut terdiri dari 19 pesawat udara, 12 kendaraan darat, termasuk beberapa jip Humvee, dan 160 prajurit.

Selama operasi tersebut, helikopter Black Hawk Down jatuh tertembak. Tiga helikopter lainnya rusak parah. Beberapa prajurit yang terluka yang mampu dievakuasi dibawa ke pangkalan militer, namun yang lainnya terjebak di daerah lokasi helikopter jatuh. Pertempuran sengit dengan milisi setempat berlangsung sepanjang malam. Keesokan paginya, pasukan gabungan dikirim untuk membantu para prajurit yang terjebak. Pasukan gabungan tersebut terdiri dari pasukan Pakistan, Malaysia dan Divisi Mountain ke-10 Amerika Serikat.

Mereka mengerahkan 100 kendaraan darat, termasuk tank M60 milik militer Pakistan dan kendaraan pengangkut lapis baja Condor milik militer Malaysia, serta beberapa dukungan udara. Angka korban tewas dari pihak Somalia tak diketahui secara pasti, namun diperkirakan beberapa ratus sampai lebih dari seribu milisi dan penyerang tewas, dengan jumlah korban terluka adalah 3.000 sampai 4.000 orang.

Komite Palang Merah Internasional memperkirakan 200 milisi Somalia tewas dan beberapa ratus orang terluka dalam pertempuran sengit tersebut. Buku Black Hawk Down: A Story of Modern War memperkirakan 700 orang milisi tewas dan lebih dari 1.000 orang terluka, namun Somali National Alliance mengumumkan bahwa hanya 133 orang tewas dalam pertempuran itu.

Menurut koran Washington Post, 312 orang tewas dan 814 orang terluka. Pada awalnya, Pentagon melaporkan 5 tentara Amerika Serikat tewas, namun akhirnya menjadi 18 orang tewas dan 73 orang terluka. Di pihak pasukan PBB, satu orang tentara Malaysia tewas, tujuh tentara Malaysia dan dua tentara Pakistan terluka.

Di waktu itu, pertempuran ini menjadi pertempuran paling berdarah yang melibatkan pasukan militer Amerika Serikat setelah perang Vietnam setelah akhirnya berpindah pada Second Battle of Fallujah di Irak tahun 2004. Pada tanggal 2 Agustus 1996, penguasa Mohamed Farrah Aidid tewas di Mogadishu. Di hari berikutnya, Jenderal Garrison pensiun.

Kontroversi Seputar Black Hawk Down: Begitu Black Hawk Down dirilis, Somali Justice Advocay Center di California mengecam bahwa apa yang ada dalam film tersebut adalah brutal dan secara tidak manusiawi menggambarkan diri masyarakat Somalia. Mereka menyerukan untuk memboikot film ini.

Dalam sebuah wawancara radio, seorang aktor dalam film ini, Brendan Sexton mengatakan bahwa film ini sangat berbeda sekali dari yang diceritakan dalam naskah aslinya. Menurutnya, banyaknya adegan yang ada menimbulkan pertanyaan yang sulit terjawab oleh militer Amerika Serikat sehubungan dengan realita mengenai kekerasan perang, apa tujuan mereka yang sebenarnya di Somalia, dan lain sebagainya, yang tidak ditampilkan di film ini.

Sexton kemudian menulis sebuah artikel di tahun 2002 di mana dia berpendapat bahwa film Black Hawk Down gagal memberikan penjelasan di balik perlawanan masyarakat Somalia terhadap kehadiran militer Amerika Serikat di negara mereka. Tulisnya: “Masyarakat Somalia seolah-olah digambarkan tidak tahu akan apa yang terjadi. Mereka hanya terlihat berusaha membunuh orang Amerika – sama seperti penjahat lainnya – akan melakukan apa saja untuk menggigit tangan yang memberi mereka makan. Tapi masyarakat Somalia bukanlah orang-orang yang bodoh. Bahkan banyak dari mereka yang geram karena kehadiran militer Amerika mendukung rezim Barre yang korup.

Dalam ulasannya di New York Times, kritikus film Elvis Mitchell mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap “kurangnya karakterisasi” yang ada dalam film dan menambahkan bahwa film ini “nyaris berbau unsur rasisme”. Kritik juga dilayangkan pada para aktor Afro-Amerika yang dipilih untuk memerankan orang Somalia di mana dalam film ini tak sedikit pun memperlihatkan bagian yang unik dari orang Somalia.

Begitu juga dengan pengucapan bahasa yang sedikit pun tidak menyerupai khas orang Somalia. Mereka gagal menangkap dialek, kebiasaan dan semangat hidup orang Somalia sebenarnya. Tak lama setelah Black Hawk Down dirilis, penulis Mark Bowden, yang juga menulis skenario film ini mengatakan pada surat kabar bahwa karakter yang dimainkan oleh Ewan McGregor didasarkan pada Ranger John Stebbins, “Namun pejabat di Pentagon meminta namanya diubah dalam upaya menjaga rasa malunya karena kasus sodomi dan pemerkosaan terhadap putrinya yang berumur 6 tahun.

Alih-alih, nama ini diubah menjadi John Grimes dengan “alasan kreatif”. Pejabat militer Malaysia yang pasukannya terlibat dalam Battle of Mogadishu melayangkan keluhan tentang keakurasian film ini. Brigadir Jenderal Purnawirawan Abdul Latif-Ahmed, yang pada saat itu mengetuai pasukan Malaysia di Mogadishu, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa penonton di Malaysia akan mendapatkan kesan bahwa pertempuran sesungguhnya dilakukan sendiri oleh Amerika, sementara pasukan Malaysia adalah “supir bus yang datang untuk mengangkut mereka”.

Jenderal Perves Musharraf, yang kemudian hari menjadi Presiden Pakistan setelah kudeta, juga menuduh para pembuat film ini tidak menghargai kerja baik yang dilakukan oleh tentara Pakistan. Dalam biografinya berjudul In the Line of Fire: A Memoir, dia menuliskan: “Kinerja luar biasa pasukan Pakistan di saat situasi buruk itu sangat dihargai dan dikenal oleh PBB. Sayangnya, film Black Hawk Down mengabaikan peran penting Pakistan di Battle of Mogadishu.


Saat pasukan Amerika Serikat terjebat di wilayah pemukiman yang padat di kawasan Madina Bazaar di Mogadishu, Resimen Angkatan Darat Garis depan Ketujuh Pakistan-lah yang membantu membebaskan mereka. Keberanian pasukan Pakistan mestinya juga diberi penghargaan yang pantas, namun di film ini seolah insiden hanya melibatkan tentara Amerika saja.

sumber: http://rizaladam.wordpress.com/2011/02/18/black-hawk-down-2001/



Trailer




Download Film Gratis Nya

Download Now

Download Film Lebih Cepat dengan UCWEB klik!

Alternatif: Link 1 - Link 2 - Link 3 - Link 4
Jenis : AVI
Ukuran : 210 mb
Durasi : 2 Jam - 24 Menit - 19 Detik
Source : BRRip



Download Subtitle Nya

Download Now

Download Film Lebih Cepat dengan UCWEB klik!

Bahasa : Indonesia
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Rizal Adam (Subscene.com)

Download Film Gratis: Need For Speed + Subtitle Indonesia

Senin, 14 April 2014

Download Film Gratis - Need for Speed + Subtitle Indonesia


Source: WEBRip
Released: 14 March 2014 (USA)
Country: USA | Philippines | Ireland | UK
Language: English
Genre: Action | Crime | Drama | Thriller
Director: Scott Waugh
Writers: George Gatins (screenplay), George Gatins (story)
Starcast: Aaron Paul, Dominic Cooper, Imogen Poots












Preview

Dapatkah Anda benar-benar menyalahkan para produser film Need for Speed karena tergoda untuk berusaha memfilmkan sebuah permainan video bertema dunia balapan mobil setelah kesuksesan komersial besar-besaran yang diraih oleh seri film Fast and Furious (2001 – 2013)? Mungkin tidak. Diadaptasi dari salah satu seri permainan video paling sukses di dunia yang telah diproduksi semenjak dua dekade lalu, Need for Speed memberikan ruang penceritaan yang cukup leluasa bagi para pencipta filmnya karena mengingat ketiadaan jalan cerita yang mengikat dalam seri permainan video itu sendiri.

Ditangani oleh penulis naskah George Gatins yang dibantu dengan dukungan struktur cerita arahan John Gatins (Flight, 2012), Need for Speed dibangun dengan formula alur penceritaan yang jelas akan mampu memuaskan mereka yang menikmati film-film aksi balapan sejenis. Lalu bagaimana formula penceritaan tersebut kemudian ditangani oleh sang sutradara Scott Waugh (Act of Valor, 2012)?

Need for Speed berkisah mengenai seorang mantan pebalap mobil bernama Tobey Marshall (Aaron Paul) yang bersama rekan-rekannya, Benny (Scott Mescudi), Joe Peck (Ramón Rodríguez), Finn (Rami Malek) dan Pete (Harrison Gilbertson), mengelola sebuah bengkel modifikasi mobil. Meskipun memiliki usaha tersebut, Tobey dan teman-temannya giat mengikuti ajang balapan mobil jalanan ilegal guna mendapatkan uang tambahan.

Suatu hari, seorang pesaing berat Tobey, Dino Brewster (Dominic Cooper), datang ke bengkel Tobey dan memintanya untuk melakukan modifikasi pada sebuah mobil klasik dengan bayaran yang cukup tinggi. Meskipun teman-temannya menolak karena tidak ingin Tobey terlibat bisnis apapun dengan Dino yang terkenal akan kelicikannya, namun karena sedang membutuhkan uang untuk menyelamatkan bengkel yang ia kelola, Tobey akhirnya menerima tawaran pesaingnya tersebut.

Meskipun terpaksa, teman-teman Tobey akhirnya bersedia untuk turut membantunya. Benar saja. Tobey dan teman-temannya dengan mudah dapat menyelesaikan proses modifikasi mobil dengan hasil yang begitu memuaskan. Bahkan, mobil tersebut dapat terjual dengan harga jauh diatas perkiraan Dino berkat modifikasi Tobey dan rekan-rekannya yang berhasil membuat mobil tersebut mampu melaju dengan kecepatan yang lebih tinggi.

Sebelum memberikan bayarannya kepada Tobey, Dino memberikan tantangan untuk beradu balapan dengannya di jalanan. Jika Tobey berhasil mengalahkannya, maka Dino akan menyerahkan seluruh uang hasil penjualan mobil kepada Tobey. Tergiur, Tobey akhirnya setuju. Bersama dengan Pete, Tobey mulai melaju di jalanan dan mampu memimpin dalam ajang balapan tersebut.

Sial, di menit-menit menjelang kemenangannya, Dino berbuat kecurangan yang menyebabkan Pete terlibat kecelakaan dan meninggal dunia. Dino melarikan diri dan menghilangkan seluruh barang bukti yang menunjukkan bahwa ia terlibat dalam kecelakaan tersebut. Sementara Tobey, selain harus kehilangan sahabatnya, juga harus rela mendekam di penjara selama dua tahun. Dua tahun berlalu, Tobey akhirnya keluar dari penjara. Bersama dengan rekan-rekannya terdahulu, Tobey mulai menyusun rencana untuk membalaskan dendam mereka kepada Dino.

Berbeda dengan seri film Fast and Furious yang lebih banyak mengenyampingkan sisi drama untuk mengutamakan sajian aksinya, naskah yang disusun George Gatins untuk Need for Speed justru sepertinya ingin menghadirkan sudut pandang yang lebih mendalam terhadap deretan konflik maupun karakter yang dihadirkan di sepanjang penceritaan film ini.

Konflik dan karakterisasi yang dihadirkan memang masih jauh dari kesan berkualitas istimewa namun jelas dihadirkan dengan porsi yang hampir menyetarai durasi kehadiran deretan adegan aksi dalam film ini. Sebuah usaha yang cukup layak diberikan kredit lebih diantara kehadiran banyak kehadiran film aksi yang cenderung terlalu mengeksploitasi adegan kekerasan maupun darah namun tampil kosong dalam sisi pengisahan lainnya.

Meskipun begitu, bukan berarti Need for Speed memiliki presentasi cerita yang berjalan mulus sepenuhnya. Sebagai sebuah film yang berbicara mengenai mobil dan dunia balapan, elemen tersebut tetap menjadi bagian paling esensial yang membuat film ini begitu layak untuk disaksikan. Sutradara Scott Waugh mampu mengemas adegan-adegan balap dengan kualitas produksi yang begitu kuat sehingga tampil meyakinkan sekaligus mampu memberikan momen-momen menegangkan kepada para penontonnya.

Waugh sendiri terlihat terbata-bata dalam menyajikan elemen drama dalam film ini. Ketidakistimewaan kualitas penulisan elemen drama Gatins memang memberikan batas tersendiri bagi Waugh untuk mampu menterjemahkannya menjadi lebih padat. Namun kegagalan Waugh untuk menyajikan sisi drama tersebut dalam ritme penceritaan yang sesuai semakin membuat unsur tersebut tampil lemah. Hasilnya, dengan porsi kehadirannya yang sebanding dengan unsur aksi, unsur drama Need for Speed justru menjelma menjadi semacam penyakit dalam tatanan alur penceritaan yang membuat film ini tersendat dalam penceritaannya.

Walaupun bukanlah sebuah masalah yang cukup serius, lemahnya jalinan chemistry antara jajaran pemeran Need for Speed cukup mengurangi kekuatan elemen penceritaan yang pada dasarnya bertumpu pada kisah persahabatan yang terbentuk antara masing-masing karakter. Jalinan romansa antara karakter Tobey Marshall dan Julia Maddon (Imogen Poots) juga sering terasa dipaksakan.

Untungnya, jajaran pemeran film ini masih mampu tampil lugas dalam menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan. Aaron Paul memiliki kharisma yang cukup kuat untuk ditempatkan sebagai aktor utama dan memimpin alur penceritaan film. Begitu juga dengan Poots, Dakota Johnson, Michael Keaton dan jajaran pemeran lainnya. Penampilan Dominic Cooper sebagai karakter antagonis utama juga seringkali mampu tampil mencuri perhatian. Cooper terlihat begitu natural dan bersenang-senang dalam usahanya untuk menghidupkan karakter yang ia perankan dalam film ini.

Meskipun diadaptasi dari sebuah permainan video legendaris yang telah berusia 20 tahun, Need for Speed jelas terasa sebagai sebuah usaha untuk meraih kesuksesan komersial di lahan yang sama seperti yang terjadi pada The Fast and the Furious. Dari sisi penyajian aksi dan adegan balapannya, Scott Waugh harus diakui mampu menyajikan elemen tersebut dengan cukup meyakinkan.


Adalah penyajian kisah drama film serta kekuatan chemistry antara setiap pemeran yang terasa lemah di banyak bagian yang kemudian membuat Need for Speed menjadi terkesan memiliki kualitas presentasi kelas dua. Buruk? Tidak juga. Namun Need for Speed jelas membutuhkan ketangguhan dan kecepatan yang lebih prima lagi jika film ini masih ingin bertahan lama dalam bersaing dengan kakak kelasnya, The Fast and the Furious.

sumber: https://amiratthemovies.wordpress.com/2014/03/16/review-need-for-speed-2014/



Trailer





Download Film Gratis Nya

Download Now

Download Film Lebih Cepat dengan UCWEB klik!

Alternatif: Link 1 - Link 2
File Format: mp4
Resolusi: 640x290
Durasi: 2 Jam - 10 Menit - 33 Detik
Ukuran: 258 mb


Download Subtitle Nya

Download Now

Download Film Lebih Cepat dengan UCWEB klik!

Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Pein Akatsuki

Download Film Gratis: Captain America The First Avenger + Subtitle Indonesia

Sabtu, 12 April 2014

Download Film Gratis: Captain America The First Avenger + Subtitle Indonesia


Source: DVDRip
Released: 9 September 2011 (Indonesia)
Country: USA
Language: English | Norwegian | French
Genre: Action | Adventure | Sci Fi
Director: Joe Johnston
Writers: Christopher Markus (screenplay), Stephen McFeely (screenplay)
Starcast: Chris Evans, Hayley Atwell, Hugo Weaving










Review

Tidak ada satu bagianpun dalam kisah Captain America: The First Avenger yang belum pernah Anda saksikan sebelumnya dalam berbagai versi cerita film-film bertemakan superhero lainnya. Anda dapat memandang hal ini sebagai sebuah usaha untuk mempertahankan kisah tradisional komik Captain America yang bertemakan sikap patriotisme sang karakter utama dalam membela negaranya.

Namun, pada banyak bagian, Captain America: The First Avenger terasa bagaikan rangkaian kisah kepahlawanan yang cheesy, begitu mudah ditebak dan gagal dalam menghadirkan sebuah kisah petualangan yang mampu untuk tampil menarik dan berbeda jika disandingkan dengan film-film bertema sama yang akhir-akhir ini banyak diproduksi Hollywood.

Disutradarai oleh Joe Johston (Jurassic Park III, 2001) dengan naskah cerita yang ditulis oleh duo Christopher Markus dan Stephen McFeely (The Chronicles of Narnia 3 : The Voyage of the Dawn Treader, 2010) berdasarkan komik Captain America rilisan Marvel Comics karya Joe Simon dan Jack Kirby, Captain America: The First Avenger berkisah mengenai Steve Rogers (Chris Evans), seorang pemuda yang sangat berhasrat untuk bergabung dengan pasukan militer Amerika Serikat dan turut membela negara dalam melawan pasukan Nazi di Perang Dunia II di tahun 1942.

Sayangnya, kondisi fisik Steve yang lemah membuatnya terus menerus mengalami penolakan oleh pihak militer. Sikap Steve yang tidak gampang menyerah, serta niat tulusnya dalam membela negara, akhirnya menuntunnya untuk bertemu dengan Dr Abraham Erskine (Stanley Tucci).

Dr Erskine, bersama dengan pihak militer Amerika Serikat, sedang berada dalam tahap pengembangan percobaan untuk menghasilkan prajurit berkekuatan super melalui percobaan ilmiah di laboratorium. Melihat sosok Steve yang tulus, Dr Erskine kemudian yakin bahwa Steve adalah kandidat yang tepat untuk dijadikan prajurit super pertama mereka.

Benar saja, setelah melalui sebuah ‘operasi plastik ilmiah,’ fisik Steve berubah menjadi atletis dengan kekuatan super telah menunggu untuk digunakan di dalam tubuhnya. Steve, yang kemudian dikenal dengan sebutan Captain America, kemudian bergabung dengan pihak militer Amerika Serikat untuk melawan pasukan Nazi, khususnya pasukan pimpinan Johann Schmidt (Hugo Weaving), rekan Adolf Hitler yang sama-sama berniat untuk menguasai dunia dengan menghalalkan berbagai cara.

Pada dasarnya, Captain America: The First Avenger hanyalah sebuah kisah dimana karakter sang protagonis berusaha untuk melawan karakter antagonis. Sederhana, tanpa berusaha untuk memberikan berbagai kisah tambahan yang cukup berarti lainnya namun dihadirkan dengan durasi sepanjang 124 menit yang akan mampu membuat setiap penonton film ini cukup merasa kelelahan hanya untuk menyaksikan sang pahlawan dan musuh utamanya akhirnya dapat bertatap muka, bertarung dan menentukan siapa yang akan dapat melanjutkan hidupnya di dunia – pertanyaan yang mungkin telah lama terjawab ketika setiap penonton tahu bahwa karakter Captain America menjadi bagian dari film The Avengersyang dirilis di tahun 2012.

Cukup membantu ketika Joe Johnston menghadirkan kisah cerita kepahlawanan tradisional tersebut dengan ritme penceritaan cepat yang terjaga dengan rapi plus, tentu saja, kehadiran adegan-adegan laga dengan tingkat visual effects berteknologi tinggi. Sayang, setelah deretan adegaan kejar-kejaran antara karakter Captain America dengan karakter Johann Schmidt – yang telah berubah menjadi Red Skull, penonton kemudian disuguhkan sebuah tampilan adegan laga antara keduanya yang harus diakui tidak setara dengan panjangnya penantian penonton yang harus dilalui untuk mencapai adegan klimaks tersebut.

Johnston sebenarnya mampu mengeksekusi Captain America: The First Avenger dengan baik, namun naskah cerita film ini terasa terlalu biasa untuk mendapatkan sebuah apresiasi yang lebih. Karakterisasi setiap tokoh yang hadir di Captain America: The First Avenger juga terasa cukup sempit. Penonton dapat memisahkan karakter protagonis dengan karakter antagonis dengan begitu mudah. Hitam atau putih. Ini yang membuat Chris Evans – yang sebenarnya merupakan pilihan yang sangat tepat untuk memerankan karakter Captain America – menjadi terlihat kurang menarik selama penceritaan Captain America: First Avenger berjalan.

Karakternya seperti telah diprogram untuk menjadi sesosok pahlawan dengan hati putih penuh niat tulus untuk melindungi orang-orang yang tidak bersalah tanpa sedikitpun diberikan celah bahwa ia adalah manusia biasa yang memiliki kekurangan. Ini masih ditambah lagi dengan kisah romansa antara karakter Steve Rogers dengan karakter Peggy Carter (Haley Atwell) yang tidak mampu dikembangkan dengan baik sekaligus terhalang oleh chemistry terbatas yang tercipta antara Evans dan Atwell.

Diantara karakter-karakter yang hadir, mungkin hanya karakter Colonel Chester Phillips yang diperankan oleh Tommy Lee Jones dan karakter Johann Schmidt/Red Skull yang diperankan oleh Hugo Weaving yang tampak menarik. Sebenarnya sama sekali tidak ada yang istimewa dari dua krakter tersebut. Namun jika dibandingkn dengan karakter-karakter lain yang terlalu datar, karakter Colonel Chester Phillips yang meledak-ledak atau karakter Johann Schmidt/Red Skull yang licik jelas akan lebih mampu untuk memberikan warna tersendiri bagi jalan cerita secara keseluruhan.

Sementara karakter-karakter pendukung lainnya yang sebenarnya dapat memiliki peran signifikan di dalam jalan cerita seperti karakter Howard Stark (Dominic Cooper), Arnim Zola (Toby Jones) atau Abraham Erskine (Stanley Tucci) hadir tanpa diberikan kesempatan untuk memberikan arti kehadiran karakter mereka di dalam jalan cerita film.

Jalan cerita Captain America: The First Avenger memiliki latar belakang waktu cerita di masa Perang Dunia II. Ini merupakan satu-satunya perbedaan (baca: keistimewaan) yang dimiliki oleh Captain America: The First Avenger jika dibandingkan dengan film-film superhero yang diangkat dari seri komik karya Marvel lainnya.

Selain itu, Captain America: The First Avenger tampil layaknya sebuah film superhero biasa, yang alur kisahnya mengikuti seluruh formula dasar dari film-film bertema sama. Kealpaan kualitas jalan cerita yang istimewa tersebut membuat Captain America: The First Avenger bagaikan hanya sebagai sebuah film pembuka bagi kehadiran The Avengers di tahun 2012 dan bukan sebagai sebuah jalur awal bagi kehadiran franchise baru bagi superhero ini. Masih cukup dapat dinikmati, namun sangat jauh dari kesan memiliki kharisma dan daya tarik layaknya seorang Captain America yang seharusnya.

sumber: https://amiratthemovies.wordpress.com/2011/09/09/review-captain-america-the-first-avenger-2011/#more-4502


Trailer





Download Film Gratis Nya

Download Part 1
Download Part 2

Download Film Lebih Cepat dengan UCWEB klik!

Alternatif: Part 1 - Part 2
Jenis : AVI
Durasi : 2 Jam -  04 Menit - 09 Detik
Source : DVDRip


Download Subtitle Nya

Download Now

Download Film Lebih Cepat dengan UCWEB klik!

ahasa : Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Pein Akatsuki

Download Film Gratis: The Amazing SpiderMan + Subtitle Indonesia

Download Film Gratis - The Amazing SpiderMan + Subtitle Indonesia


Source: DVDRip
Released: 2012
Country: USA
Language: English
Genre: Action | Fantasy  | Thriller
Director: Marc Webb
Writers: James Vanderbilt (screenplay), Alvin Sargent (screenplay)
Starcast: Andrew Garfield, Emma Stone and Rhys Ifans











Review

The Amazing Spiderman, film 3D terbaru dari Marvel ini sudah tidak diperankan oleh Tobey Maguire sebagai Peter Parker. Peran Peter Parker disini digantikan oleh Andrew Garfield. Tidak hanya Peter Parker, namun Mary Jane yang sebelumnya menjadi kekasih Peter, sekarang menjadi Gwen Stacy yang diperankan oleh Emma Stone.

Cerita film ini juga tidak lagi meneruskan cerita dari film Spiderman sebelumnya. Film ini lebih kearah latar belakang keluarga Peter Parker. Dan perbedaan lainnya dari Spiderman sebelumnya, kali ini, pahlawan laba-laba ini harus menggunakan bantuan alat di pergelangan tangannya untuk mengeluarkan jaringnya.

The Amazing Spider-Man bercerita mengenai Peter Parker (Andrew Garfield), seorang anak SMA biasa yang ditinggal orangtuanya saat masih kecil sehingga ia dirawat oleh pamannya, Ben (Martin Sheen), dan bibinya, May (Sally Field).

Seperti remaja kebanyakan, Peter berusaha mencari tahu siapa ia sebenarnya dan bagaimana ia bisa menjadi seperti sekarang ini. Peter juga mencari cara untuk dapat bersama cinta pertamanya, Gwen Stacy (Emma Stone) dan bersama, mereka berjuang dengan cinta, komitmen dan rahasia-rahasia yang ada.


Saat Peter menemukan tas misterius kepunyaan ayahnya, ia memulai sebbuah penyelidikan untuk dapat memahami hilangnya orang tua Peter - yang menuntunnya langsung ke Oscorp dan sebuah laboratorium yang dimiliki oleh Dr. Curt Connors (Rhys Ifans), ex-partner sang ayah. Ketika Spider-Man dihadapkan dengan alter-ego Dr. Connors, The Lizard, Peter harus menggunakan kekuatannya dan memulai jalan hidupnya sebagai seorang pahlawan.


Trailer




Download Film Gratis Nya

Download Part 1
Download Part 2

Download Film Lebih Cepat dengan UCWEB klik!

Alternatif: Part 1 - Part 2
enis : AVI
Durasi : 136 Menit
Source : DVDRip


Download Subtitle Nya

Download Now

Download Film Lebih Cepat dengan UCWEB klik!

Bahasa : Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT