.
.
Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan

Download Film Gratis: Fetih 1453 + Subtitle Indonesia

Sabtu, 24 Mei 2014

Download Film Gratis - Fetih 1453 + Subtitle Indonesia


download film gratis fetih 1453
Source: BRRip
Released: 25 April 2012 (USA)
Country: Turkey
Language: Turkish | Arabic
Genre: Action | Adventure | Drama | History | War
Director: Faruk Aksoy
Writers: Atilla Engin (screenplay), Irfan Saruhan (script writer)
Starcast: Devrim Evin, Ibrahim Celikkol, Dilek Serbest











Review

Film “Fetih 1453“ buatan Turki yang disutradari Faruk Aksoy ini diluncurkan serentak di berbagai belahan dunia pada tanggal 16 Februari 2012. Keseluruhan visualisasi yang disajikan adalah bentuk adaptasi dari sebuah hadits yang merupakan kisah nyata yang terjadi ratusan tahun silam. Saat itu, tentara kesultanan Usmani di bawah komando langsung dari sang Sultan Muhammad II mampu menaklukkan kota dengan pertahanan terbaik di dunia, yakni Konstantinopel.


Trailer




Download Film Gratis Nya

Download Now

Download Film Lebih Cepat dengan UCWEB klik!

Alternatif: Link 1, Link 2, Link 3, Link 4, Link 5
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 640x272
Durasi: 2 Jam - 35 Menit - 59 Detik
Ukuran: 336 mb


Download Subtitle Nya

Download Now

Download Film Lebih Cepat dengan UCWEB klik!

Bahasa: Indonesia
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Irfan Oxy

Download Film Gratis: Rurouni Kenshin + Subtitle Indonesia

Minggu, 11 Mei 2014

Download Film Gratis - Rurouni Kenshin + Subtitle Indonesia


download film gratis rurouni kanshin
Source: BRRip
Released: 2012
Country: Japan
Language: Japanese
Genre: Action | History
Director: Keishi Ohtomo
Writers: Nobuhiro Watsuki (manga), Kiyomi Fujii (screenplay)
Starcast: Takeru Sato, Emi Takei and Yû Aoi











Review

Samurai X memiliki judul asli Rurouni Kenshin ialah manga dan anime karya Nobuhiro Watsuki yang berlatar belakang awal dari era Meiji di Jepang. Manga ini terbit di majalah mingguan Shonen Jump dan telah dibukukan menjadi 28 seri buku.

Di Indonesia manga ini diterbitkan oleh Elex Media Komputindo pada tahun 2002 dengan judul Samurai X.

Nama Samurai X pertama kali digunakan oleh ADV Films dalam merilis anime Rurouni Kenshin di Amerika. Nama ini diambil dari tanda codet berbentuk X di wajah Kenshin.

Kabar tentang adaptasi film Ruroini Kenshin live action dikonfirmasi sejak pertengahan tahun 2011 dan disambut antusias oleh para penggemarnya. Film ini diproduksi oleh Warner Bros Jepang dengan Studio Swan yang menanganinya.

Duduk dibangku sutradara, Ootomo Keishi yang pernah mengarahkan serial "Ryomaden", sebuah serial kolosal yang juga bersetting masa Bakumatsu seperti Rurouni Kenshin. Film ini mulai muncul di bioskop Jepang mulai bulan Agustus 2012. |
==========

Film yang berjudul "Rurouni Kenshin" ini sendiri akan bercerita tentang Kenshin Himura (Takeru Satoh), seorang pendekar pedang yang bertobat, setelah banyak membantai orang dengan pedangnya.

Dalam pengembaraanya setelah bertobat dia bertemu dengan Kamiya Kaoru (Emi Takei), seorang gadis cantik pemilik perguruan pedang yang tidak terkenal. Di tempat ini akhirnya Kenshin tinggal untuk menenangkan diri sambil melupakan masa lalunya.

Tapi ketenangan yang dinikmatinya tidak berlangsung lama, karena ada musuh yang sangat kuat berusaha untuk mengacaukan Jepang. Kenshin pun harus kembali sebagai "Battousai si Pembantai"

sumber: http://atjehpost.com/read/2012/03/20/4687/23/23/Samurai-X-Rurouni-Kenshin-Melihat-Battousai-Si-Pembantai-Dalam-Live-Action



Trailer




Download Film Gratis Nya

Download Now

Download Film Lebih Cepat dengan UCWEB klik!

Alternatif: Link 1, Link 2, Link 3, Link 4, Link 5
Jenis : AVI
Ukuran : 224 mb
Durasi : 2 Jam - 14 Menit - 27 Detik
Source : BRRip


Download Subtitle Nya

Download Now

Download Film Lebih Cepat dengan UCWEB klik!

Bahasa : Indonesia
Format : SUB & SRT

Download Film Gratis: Lincoln + Subtitle Indonesia

Jumat, 09 Mei 2014

Download Film Gratis - Lincoln + Subtitle Indonesia


download film gratis lincoln
Source: DVDRip
Released: 2012
Country: USA
Language: English
Genre: Drama | Biography | History | War
Director: Steven Spielberg
Writers: Tony Kushner (screenplay), Doris Kearns Goodwin (book)
Starcast: Daniel Day-Lewis, Sally Field, David Strathairn, Joseph Gordon-Levitt










Review

Tahun 2012 nampaknya jadi tahun bagi para Presiden Amerika Serikat, dimana setidaknya ada total tiga film yang menjadikan sosok orang nomor satu Amerika menjadi tokoh utamanya. Yang pertama adalah Abraham Lincoln: Vampire Hunter yang mengangkat kisah fiksi dari novel tentang Abe Lincoln yang menjadi pemburu vampir. Lalu ada sosok Franklin D. Roosevelt yang diperankan oleh Bill Murray dalam dramedi Hyde Park on Hudson.

Tapi diantara film-film tersebut yang paling digarap dengan serius dan paling akurat dengan sejarah tentunya adalah Lincoln karya Steven Spielberg ini. Diangkat dari sebuah buku berjudul Team of Rivals: The Political Genius of Abraham Lincoln karya sejarawan Doris Kearns Goodwin, film ini menceritakan empat bulan terakhir dari hidup Abraham Lincoln.

Sosok Presiden ke-16 Amerika Serikat ini diperankan oleh Daniel Day-Lewis yang sebelum filmnya tayang sudah digadang-gadang meraih nominasi Best Actor Oscar bahkan dijagokan menang. Pesona akting Day-Lewis yang dalam 10 tahun hanya bermain di lima film termasuk Lincoln (mendapat tiga nominasi Oscar dan empat Golden Globe) memang luar biasa. Lincoln sendiri mendapat 12 nominasi Oscar tahun ini termasuk Best Picture, terbanyak diantara film-film lainnya.

Pada Januari 1865 Abraham Lincoln resmi menjabat untuk kedua kalinya sebagai Presiden Amerika Serikat. Pada masa jabatan yang kedua ini Lincoln mempunyai dua problema yang harus ia pecahkan. Yang pertama adalah perang sipil yang sudah berlangsung selama empat tahun, meski diprediksi perang tersebut akan berakhir dalam hitungan bulan namun sudah ratusan ribu nyawa melayang. Yang kedua adalah usahanya untuk meloloskan Amandemen 13 yang berisi penghapusan dan larangan terhadap perbudakan.

Lincoln berusaha keras untuk mengesahkan amandemen tersebut sebelum perang berakhir. Namun hal itu tidak mudah, karena lawan politiknya dari partai demokrat yang sedang panas akibat kekalahan di pemilu tentunya tidak akan menyetujui begitu saja aturan tersebut. Untuk itulah Abe Lincoln mulai mengatur strategi untuk bisa mendapatkan suara dari beberapa anggota partai demokrat supaya bisa meloloskan amandemen tersebut.

Tentu saja kisah tentang Abraham Lincoln yang sanggup memberikan kemerdekaan bagi para budak sudah dikenal luas, tapi tidak semua orang tahu bagaimana jalan terjal yang harus ia lewati dan strategi macam apa yang ia lakukan. Lincoln akan banyak memperkenalkan pada penontonnya sisi lain Abraham Lincoln yang belum banyak diketahui orang.

Jika orang awam biasanya hanya mengenal Lincoln sebagai sosok pemimpin yang baik hati dan menjunjung kemerdekaan, maka disini sosoknya yang cerdik dan ahli strategi cukup disorot. Menyenangkan bagi kita yang sangat dangkal pengetahuan sejarahnya melihat Abraham Lincoln yang begitu cerdik Seperti yang dikatakan Thaddeus Stevens (Tommy Lee Jones), ini adalah sebuah kisah tentang bagaimana orang-orang paling bersih di pemerintahan Amerika memainkan beberapa cara "kotor" untuk mencapai sebah tujuan mulia.

Lincoln memang tidak membeli suara dengan memberikan uang pelicin bagi para anggota partai demokrat, tapi ia menjanjikan posisi dan pekerjaan bagi mereka yang mau memberikan suara untuk meloloskan peraturan tersebut. Lincoln begitu cerdik disini dalam mengatur strategi supaya mereka mau berada di pihaknya. Beberapa cara persuasi digunakan dan terbukti efektif. Kehebatan Lincoln juga terlihat pada bagaimana ia bisa dengan begitu baik memanfaatkan sumber daya yang ia miliki.

Film ini berjalan dengan alur yang termasuk lambat. Awal film dimulai dengan berbagai dialog panjang dan tempo penceritaan yang pelan. Durasinya yang mendekati dua setengah jam membuat Lincoln adalah sebuah tontonan yang tidak akan mudah diikuti semua orang.

Film ini memang ber-setting di masa perang, tapi hampir tidak ada adegan peperangan yang terlihat. Hanya sekali adegan di bagian pembuka. Sisanya lebih banyak menampilkan usaha Lincoln dan bawahannya dalam mengatur strategi dan melakukan persuasi terhadap anggota demokrat.

Tensi yang lambat di awal membuat penonton mungkin akan kesulitan mengikuti kisahnya yang penuh dialog panjang karena sudah merasa bosan di awal film. Namun adegan yang menampilkan perdebatan antara pro dan kontra amandemen 13 selalu seru dan menarik diikuti.


Kemudian klimaksnya adalah disaat pemungutan suara yang begitu menegangkan dan berhasil diakhiri dengan mengharukan. Disinlah kebiasaan Spielberg yang terlalu mendramatisir filmnya terasa lagi, padahal Lincoln sedari awal punya rasa yang cukup berbeda dibanding beberapa film Spielberg yang seringkali berlebihan dalam mendramatisir. Lincoln terasa membumi, sederhana tapi mampu dengan maksimal memperlihatkan sosok Abraham Lincoln.

sumber: http://movfreak.blogspot.com/2013/01/lincoln-2012.html


Trailer





Download Film Gratis Nya

Download Part 1
Download Part 2

Download Film Lebih Cepat dengan UCWEB klik!

Alternatif: Part 1 - Part 2
Jenis : AVI
Durasi : 150 Menit
Source : DVDRip


Download Subtitle Nya

Download Now

Download Film Lebih Cepat dengan UCWEB klik!

Bahasa : Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Nyamuk_bising (Subscene.com)

Download Film Gratis: Zero Dark Thirty + Subtitle Indonesia

Minggu, 04 Mei 2014

Downlad Film Gratis - Zero Dark Thirty + Subtitle Indonesia


download film gratis zero dark thirty
Source: BRRip
Released: 2012
Country: USA
Language: English
Genre: Drama | Thriller | History
Director: Kathryn Bigelow
Writer: Mark Boal
Starcast: Jessica Chastain, Joel Edgerton, Chris Pratt











Review

Kathryn Bigelow memang bukan orang baru dalam dunia perfilman. Sejak film pertamanya The Loveless yang dirilis tahun 1982 hingga sekarang total sembilan film yang sudah ia buat. Tidak terlalu banyak namun tiap filmnya punya kualitas yang bisa dibilang tidak mengecewakan.

Tapi baru sekitar 3-4 tahun belakangan ini namanya mulai benar-benar dipandang setelah filmnya, The Hurt Locker sanggup mengalahkan Avatar milik James Cameron yang tidak lain adalah mantan suaminya.

Kali ini Bigelow kembali menyajikan sebuah drama dibalik peperangan pada kita. Zero Dark Thirty memang bukan sepenuhnya film tentang medan perang. Judulnya sendiri adalah sebuah istilah militer untuk menyebut "30 menit setelah tengah malam".

Berkisah tentang perburuan terhadap orang paling dicari sedunia, Osama bin Laden, ini adalah kisah tentang perang melawan terorisme dan sosok yang dianggap paling bertanggung jawab atas berbagai macam aksi teror termasuk tragedi 9/11.

Zero Dak Thirty memang menimbulkan banyak kontroversi, mulai dari adegan penyiksaan, sempat dituduh membocorkan rahasia tingkat tinggi militer, hingga tidak dinominasikannya Bigelow sebagai Best Directori dalam ajang Oscar tahun ini.

Maya (Jessica Chastain) adalah anggota CIA yang sudah bertahun-tahun berusaha mencari keberadaan Osama bin Laden. Dia sudah mengabdikan waktunya untuk hal tersebut selama lebih dari 10 tahun. Dengan durasi 157 menit, dua jam pertama dalam Zero Dark Thirty akan membawa kita melihat bagaimana usaha Maya untuk melacak keberadan Osama.

Tentu saja hal itu tidak mudah dan dia harus melalui berbagai macam rintangan yang bahkan sempat mengancam nyawanya sendiri. Sedangkan 30 menit terakhir adalah sebuah penyergapan ke sebuah rumah yang ditengarai adalah kediaman Osama bin Laden.

Tentu saja kita semua sudah tahu mengenai fakta bahwa penyergapan tersebut akan berakhir dengan terbunuhnya Osama disamping banyaknya kontroversi tentang benar atau tidaknya hal tersebut.

Tentu saja proses penyelidikan yang disajikan selama kurang lebih dua jam tersebut tidaklah mudah, bahkan jauh lebih rumit dan kompleks dari apa yang dibayangkan sebelum menonton film ini. Sudah dibuka dengan adegan penyiksaan yang cukup keras sedari awal, Zero Dark Thirty nampaknya akan menjadi sebuah perjalanan yang juga keras dan penuh rintangan bagi Maya.

Dua jam yang mengeksplorasi segala penyelidikan tersebut adalah bukti begitu hebat dan cerdasnya naskah yang ditulis oleh Mark Boal ini. Alurnya memang tidak berjalan cepat, tapi secara perlahan mencengkeram penontonnya untuk terus terpaku pada layar mengikuti perburuan orang paling dicari di seluruh dunia tersebut.

Zero Dark Thirty adalah kombinasi sempurna dari dialog-dialog cerdas, berbobot, namun menarik untuk diikuti dan tidak terasa sok pintar. Kita tidak langsung dibawa pada sosok Osama, tapi secara terstruktur dibawa untuk mengiktui penyelidikan dari jaringan Al Qaeda paling bawah, hingga akhirnya sampai pada sosok yang dianggap sangat dekat dengan Osama.

Memang begitulah pelacakan jaringan teroris dilakukan, namun baru pada film ini kita akan  benar-benar diperlihatkan secara nyata bagaimana itu dilakukan dan bagaimana rumitnya pelacakan tersebut.

Dua jam yang begitu intens Tapi tidak hanya itu, karena 30 menit terakhir yang menampilkan penyergapan terhadap Osama juga masih terasa menegangkan meski kita sudah tahu hasil akhirnya akan seperti apa. Sebuah baku tembak yang tidak bombastis tapi begitu efektif menghadirkan kekerasan dan ketegangan.

Selain cerita yang tersusun rapih, dialog cerdas dan ketegangan yang tidak pernah menghilang, Zero Dark Thirty juga punya sesuatu lain untuk dipikirkan oleh penontonnya. Ambiguitas begitu terasa disini. Tapi sebelum bicara ambiguitas, kita akan membahas sosok Maya terlebih dahulu.

Di awal dia masih orang baru dalam misi tersebut, bahkan melihat penyiksaan dalam interogasi saja dia masih kesulitan. Namun perlahan dia mulai terbiasa bahkan bersedia melakukan penyiksaan meski masih dalam taraf ringan. Semakin lama ia makin tenggelam dalam pekerjaannya, dan Maya telah menjadi sosok yang jauh lebih kuat bahkan keras.

Apalagi saat ia harus kehilangan sahabatnya dalam bertugas, dimana hal itu merubah Maya dari seseorang yang berdedikasi tinggi menjadi seseorang yang terobsesi pada pekerjaannya. Begitu banyak rintangan yang ia alami, bahkan ia hampir kehilangan apa yang ia kejar.

Tapi pada akhirnya kerja keras dan kepintarannya berhasil terbayar saat berbagai titik terang mulai terungkap dan pada akhirnya misi berhasil, tapi benarkah itu? Benarkah semua progres dalam misi memang hal yang nyata, atau itu hanya sebuah upaya denial dari Maya yang tidak siap menerima kegagalan dalam pekerjaannya?

Maya adalah sosok yang pintar, dan dia adalah expert dalam penyelidikan ini, cukup mungkin baginya muncul dengan analisis meyakinkan meski sebenarnya hal itu adalah kesalahan. Dan pertanyaan paling besar pastinya adalah benarkah sosok yang terbunuh itu adalah Osama?

Namun dibalik ambiguitas dan kontroversi tersebut, Maya jelas sebuah perlambang kekuatan dari femininitas. Jessica Chastain sebagai Maya bukanlah seorang wanita tangguh dilihat dari fisiknya, dengan badan langsing, wajah cantik dan kulit yang putih mulus tentu dia jauh dari kesan sosok wanita yang kuat. Dia adalah gambaran sempurna seorang wanita anggun. Tapi dibalik tampilan fisik itu dia punya kepribadian dan mental yang begitu kuat dan keras.

Kata-kata yang ia ucapkan penuh dengan keyakinan dan seringkali cukup tajam. Dia tidak segan membentak, mengeluarkan sedikit sumpah serapah untuk meyakinkan lawan bicaranya. Tatapan matanya memancarkan kekuatan namun juga kesepian dan kesedihan. Untuk itulah Jessica Chastain patut diberi pujian tinggi atas aktingnya disini. Sosoknya memang tengah mendominasi dalam jajaran aktris papan atas Hollywood. Dua tahun terakhir selalu mendapat nominasi Oscar dan film-filmnya hampir tidak ada yang buruk, mulai dari Take Shelter, Coriolanus, The Tree of Life, The Debt, The Help, Lawless dan tentunya film ini.

Dengan durasi sekitar dua setengah jam yang justru terasa sangat cepat jelas sebuah bukti bahwa Zero Dark Thirty adalah sebuah karya yang sangat baik dari Kathryn Bigelow. Film ini lebih besar, lebih cepat, lebih intens dan menegangkan, naskahnya pun lebih cerdas.


Ini bukan sekedar tentang perang terhadap terorisme, tapi tentang mereka yang sudah menghabiskan waktu begitu banyak dalam hidup untuk memerangi hal tersebut, apapun motivasinya.

sumber: http://movfreak.blogspot.com/2013/01/zero-dark-thirty-2012.html


Trailer





Download Film Gratis Nya

Download Part 1
Download Part 2

Download Film Lebih Cepat dengan UCWEB klik!

Alternatif: Part 1 - Part 2
Jenis : AVI
Durasi : 2 Jam - 36 Menit - 57 Detik
Source : BRRip


Download Subtitle Nya

Download Now

Download Film Lebih Cepat dengan UCWEB klik!

Bahasa : Indonesia
Format : SUB & SRT
Subtitle By: gustimor (IDFL.us / Subscene.com)

Download Film Gratis: Argo + Subtitle Indonesia

Download Film Gratis - Argo + Subtitle Indonesia


download film gratis argo
Source: BRRip
Released: 2012
Country: USA
Language: English | Persian
Genre: Drama | Thriller | History
Director: Ben Affleck
Writers: Chris Terrio (screenplay), Joshuah Bearman (article)
Starcast: Ben Affleck, Bryan Cranston and John Goodman











Review

Bagaimana kamu mengenal seorang Benjamin Géza Affleck-Boldt atau lebih mudah kita menyebutnya saja dengan Ben Affleck? Penambang minyak lepas pantai yang terbang ke luar angkasa untuk menghancurkan asteroid raksasa, pengacara sekaligus superhero tuna netra, penulis naskah handal yang bersama sahabat kentalnya, Matt Damon yang berhasil mengondol Oscar sebagai penulis naskah orisinil terbaik di usianya yang baru 25 tahun? lalu dengan mantan tunangannya, Jennifer Lopez, Affleck menghancurkan dirinya dalam Gigli yang luar biasa buruk itu.

Tetapi seperti burung Phoenix, Affleck bangkit dari abu-abu kehancuran Gigli dan membentuk kembali dirinya, tidak hanya sebagai aktor yang menjual tampang tampannya namun juga sebagai filmaker handal, lihat debut penyutradaraanya dalam Gone Baby Goneyang cerdas 2007 lalu atau The Town yang keren dan lebih punya aksi, maka sebenarnya tinggal hanya menunggu waktu saja suami Jennifer Garner ini untuk menemukan sesuatu yang lebih besar , lebih berani dan lebih punya nilai Oscar dari sekedar thriller penculikan bocah dan perampokan bank, maka para hadirin, mari kita sambut Argo, karya terbaru dari aktor yang konon digadang-gadang sebagai ‘the next Clint Eastwood’ ini.

Penyutradaraan ketiga Affleck ini memang tergolong berani, provokatif dan juga punya cerita yang terdengar gila dan mungkin konyol untuk ukuran sebuah thriller politik.

Andai saja narasinya bukan diadaptasi bebas dari sebuah artikel majalah Wired terbitan 2007 lalu milik Joshuah Bearman yang bertajuk “How the CIA Used a Fake Sci-Fi Flick to Rescue Americans from Tehran.”, tentang peristiwa nyata yang terjadi pada krisis penyenderaan lebih dari 50 diplomat Amerika Serikat di Tehran, Iran di tahun 1979 lalu yang juga dikenal dengan sebutan “Canadian Caper” mungkin saya akan sulit mempercayainya, tetapi faktanya itulah yang memang terjadi di Argo.

Affleck memerankan Tony Mendez pejabat CIA yang mendapatkan tugas untuk menyelamatkan dan memulangkan kembali 6 orang diplomat AS yang bersembunyi di kedutaan besar Kanada setelah sebelumnya mereka berhasil meloloskan diri serbuan warga dan militan Iran yang marah besar.

Nah, yang istimewa adalah bagaimana Mendez melakukannya; menyamar sebagai filmaker Kanada untuk sebuah proyek film sci-fi palsu; Argo yang berdalih untuk mencari lokasi syuting di Iran.

Masalah yang biasa sering terjadi pada sub genre ini adalah mereka seringkali terlalu rumit untuk bisa dinikmati, bahkan tidak jarang membuat penontonnya pusing ketimbang terhibur karena muatan politiknya yang terlalu kuat, namun Argo berbeda, Affleck tahu benar bahwa membuat penontonnya jenuh apalagi sampai tertidur itu adalah dosa besar, maka kemudian bersama penulis naskah Chris Terrio ia lebih memfokuskan semuanya ke usaha penyelamatan sandera ketimbang terlalu banyak bermain-main dengan segala tetek bengek permasalahan dua negara yang tidak pernah akur ini, dan kamu tahu, itu berhasil, dan hebatnya Argo juga tidak sampai kehilangan sentuhan politiknya.

Lima menit pertamanya sudah menjelaskan hal-hal yang perlu kamu tahu tentang bagaimana semua ketegangan itu bermula, tidak perlu meminta terlalu banyak lagi karena Affleck sudah merangkum poin-poin pentingnya sana sebagai landasan ceritanya bersama narasi, animasi dan footage-footage asli. Lalu ketegangan itu datang dalam wujud serbuan menakutkan para demonstran Iran ke kedubes AS dimana para pegawainya dilanda kepanikan hebat.

Dari sini Affleck terus mengenjot tensinya, meskipun sedikit kendur pada pertengahannya namun ia sebenrnya tidak pernah melepaskan cengkeramannya.

Fokusnya ada pada karakter Affleck yang berjanggut dan usahanya bersama pihak pemerintah, produser film Lester Siegel (Alan Arkin) dan make-up artist John Chambers (John Goodman) untuk membuat sebuah proyek film fiksi ilmiah fantasi palsu memanfaatkan fenoma Star Wars lengkap dengan pernak-pernik pendukungnya agar terlihat meyakinkan, ya, itu sebuah misi yang terdengar buruk, namun seperti kata Mendez, “ This is the best bad plan we have, sir.”

Mungkin kamu tahu bagaimana akhirnya, namun di sini kita dapat melihat bakat Affleck sebagai bakal sutradara besar ketika Ia masih mampu membuatmu terus menahan nafas bersama rangakaian momen-momen di luar rencana yang super mendebarkan; adegan di keramaian pasar Tehran sampai adegan airport yang tidak henti-hentinya membuat jantungmu melompat-lompat riang, ya, semua sukses digarap Affleck dengan elegan termasuk bagaimana ia menciptakan atmosfer 80′an yang kental, menyelipkan humor-humor cerdas dalam dialog-dialognya, kritik politik tentang bagaimana pihak AS yang tidak menghargai usaha pemerintahan Kanada yang punya jasa besar dalam membantu misi “Argo” itu, sindiran kepada Iran, sentilan kepada Hollywood bahkan kepada dirinya sendiri sebagai sutradara dalam sebuah dialog menarik dengan John Goodman.


Senang rasanya melihat bagaimana seorang seperti Ben Affleck bisa berkembang sehebat ini sebagai seorang filmaker. Dari thriller kecil yang mengesankan lalu lihatlah sekarang, Argo bisa dibilang pencapaian terbaik Affleck sejauh ini. Sebuah thriller politik yang cerdas dan mendebarkan, sebuah tontonan berkelas dari ‘anak kemaren sore’, salah satu yang terbaik tahun ini. Bravo Mr. Affleck!

sumber: http://movienthusiast.com/2012/12/argo-2012/


Trailer




Download Film Gratis Nya

Download Now

Download Film Lebih Cepat dengan UCWEB klik!

Alternatif: Link 1 - Link 2
Jenis : AVI
Ukuran : 189 mb
Durasi : 2 Jam - 09 Menit - 35 Detik
Source : BRRip [EXTENDED]



Download Subtitle Nya

Download Now

Download Film Lebih Cepat dengan UCWEB klik!

Bahasa : Indonesia
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Subehan86 (Subscene.com)

Download Film Gratis: Pompeii + Subtiitle Indonesia

Jumat, 02 Mei 2014

Download Film Gratis - Pompeii + Subtitle Indonesia


download film gratis pompeii
Source: BRRip
Released: 21 February 2014 (USA)
Country: Canada | Germany
Language: English
Genre: Action | Adventure | Drama | Romance | History
Director: Paul W.S. Anderson
Writer: Janet Scott Batchler (screenplay), Lee Batchler (screenplay)
Starcast: Kit Harington, Emily Browning, Kiefer Sutherland










Review

Berbeda dengan James Cameron yang sepertinya akan selalu berhasil menarik pujian kritikus film dunia untuk setiap film yang ia arahkan, nama Paul W. S. Anderson lebih dikenal sebagai seorang sutradara yang selalu mengandalkan tampilan efek visual bombastis dalam setiap film-filmnya namun dengan bangunan naskah cerita yang begitu lemah. Well… mencoba mengikuti jejak Cameron melalui Titanic (1997), Anderson hadir dengan film terbarunya, Pompeii, yang turut menyajikan paduan drama romansa yang menghanyutkan dengan latar belakang tragedi berdasarkan sebuah kejadian nyata.

Sejujurnya, dari kemampuannya bercerita, Anderson jelas berada jauh dibawah Cameron – dan Pompeii masih membuktikan hal tersebut. Meskipun begitu, Pompeii bukanlah sebuah karya yang benar-benar buruk. Terlepas dari jalan penceritaan yang standar dan jauh dari kesan emosional, Anderson mampu mengemas film ini dengan baik dan menjadikannya sebagai sebuah sajian yang cukup menghibur.

Berlatarbelakang detik-detik menjelang meletusnya Gunung Vesuvius yang menghancurkan sekaligus mengubur sebagian kota Pompeii, Italia pada tahun 79 M, Pompeii dimulai dengan kisah kembalinya Cassia (Emily Browning) yang merupakan puteri dari penguasa kota Pompeii, Severus (Jared Harris), ke kota tersebut setelah menghabiskan waktu setahun di kota Roma.

Dalam perjalanan pulang kembali ke kampung halamannya, Cassia berkenalan dengan seorang budak, Milo (Kit Harington), yang juga sedang dibawa ke kota Pompeii untuk menjadi seorang petarung bayaran dengan nama The Celt. Meskipun berasal dari dua kelas yang berbeda, perkenalan tersebut segera menumbuhkan rasa suka yang, tentu saja, kemudian berujung pada kisah cinta antara keduanya.

Masalah kemudian hadir ketika seorang pejabat dari kota Roma, Senator Corvus (Kiefer Sutherland), datang ke Pompeii dengan alasan untuk berinvestasi di kota tersebut. Nyatanya, kedatangan Senator Corvus disebabkan karena hasratnya untuk mendapatkan Cassia yang sempat menolak dirinya ketika gadis tersebut berada di Roma.

Melihat jalinan kasih antara Cassia dan Milo yang mulai berkembang, Senator Corvus lantas merencanakan untuk membunuh Milo ketika ia sedang bertarung di arena. Diantara berbagai intrik dan drama yang terjadi di kota Pompeii, sebuah tragedi siap untuk datang dan melenyapkan seluruh kota tersebut: Gunung Vesuvius yang berlokasi di sebelah kota telah bersiap untuk menumpahkan laharnya.

Pompeii hadir dengan kualitas penceritaan yang begitu sederhana. Penulis naskah film ini, Janet Scott Batchler dan Lee Batchler (Batman Forever, 1995) serta Michael Robert Johnson (Sherlock Holmes, 2009), seperti berusaha untuk memadukan formula penceritaan drama romansa dari Titanic dengan sisi aksi dari Gladiator (2000). Sayangnya, ketiga penulis naskah tersebut sama sekali tidak memiliki kemampuan mendalam untuk menyajikan kisah mereka dengan penggalian yang memadai, baik dari sisi cerita maupun karakter-karakter yang dihadirkan. Tidak mengherankan jika kemudian dalam 105 menit presentasinya, penonton sama sekali tidak pernah merasa dilibatkan secara emosional untuk terus terikat dalam mengikuti perjalanan kisah setiap karakter di film ini.  Tidak buruk namun jelas terasa datar dalam penyampaiannya.

Masa-masa keemasan Pompeii terjadi ketika jalan cerita film ini telah memberikan fokus yang lebih besar pada tragedi meletusnya Gunung Vesuvius dan meninggalkan sekelumit drama yang terjadi pada karakter-karakternya. Di bagian ini, Paul W. S. Anderson dapat dengan leluasa menterjemahkan berbagai imajinasinya mengenai salah satu bencana alam terbesar yang terjadi di sepanjang sejarah peradaban manusia tersebut. Dan hasilnya tidak mengecewakan. Anderson mampu menyajikan efek visual filmnya dengan begitu dramatis dan sama sekali tidak terasa berlebihan – seperti yang terjadi pada beberapa filmnya.

Deretan adegan aksi yang dihadirkan di film ini juga mampu dieksekusi dengan baik oleh Anderson. Penuh dengan darah dan, yang paling utama, berhasil memberikan momen-momen emosional yang gagal dibentuk oleh sisi drama romansa dari film ini. Dengan terbatasnya penggalian yang diberikan pada setiap karakter yang hadir di film ini, jelas tidak mengherankan untuk melihat para jajaran pemeran Pompeii juga turut hadir dengan penampilan akting yang jelas terbatas, khususnya pada dua pemeran utamanya, Kit Harington dan Emily Browning.

Berbeda dengan Kate Winslet di Titanic atau Russell Crowe di Gladiator dimana keduanya selalu mampu tampil dengan daya tarik yang begitu kuat untuk setiap kehadiran karakternya, Harington dan Browning terkesan begitu datar. Chemistry diantara keduanya bahkan tampil begitu minim untuk dapat membuat penonton percaya bahwa kedua karakter yang mereka perankan rela mati demi satu sama lain. Kegagalan ini yang kemudian membuat penampilan jajaran pemeran pendukung yang diisi dengan nama-nama seperti Adewale Akinnuoye-Agbaje, Kiefer Sutherland, Jared Harris, Carrie-Anne Moss bahkan Jessica Lucas yang tampil begitu terbatas menjadi lebih menarik jika dibandingkan dengan kedua karakter utama.

Pompeii jelas bukanlah sebuah film dengan kualitas yang berada diatas kualitas film-film arahan Paul W. S. Anderson sebelumnya. Naskah cerita yang ditulis oleh Janet Scott Batchler, Lee Batchler serta Michael Robert Johnson hadir dengan kualitas penceritaan yang begitu sederhana.


Sayangnya, kesempatan mereka untuk meningkatkan kualitas penceritaan dengan menghadirkan deretan karakter yang lebih menarik juga gagal dilakukan – yang sekaligus menyebabkan kedangkalan yang begitu dapat dirasakan dalam penampilan setiap aktor dan aktris pengisi departemen akting film ini. Pompeii, untungnya, masih mampu hadir menghibur berkat kemampuan Anderson dalam mengeksekusi elemen aksi film ini dengan baik serta tampilan efek visual akan letusan Gunung Vesuvius yang hadir begitu mengesankan. Tidak kurang… dan tidak lebih.

sumber: http://amiratthemovies.wordpress.com/2014/02/25/review-pompeii-2014/


Trailer





Download Film Gratis Nya

Download Now

Download Film Lebih Cepat dengan UCWEB klik!

Alternatif: Link 1 - Link 2
File Format: mp4
Resolusi: 640x272
Durasi: 1 Jam - 44 Menit - 59 Detik
Ukuran: 230 mb


Download Subtitle Nya

Download Now

Download Film Lebih Cepat dengan UCWEB klik!

Bahasa: Indonesia
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Pein Akatsuki

Download Film Gratis: Saving Private Ryan + Subtitle Indonesia

Jumat, 25 April 2014

Download Film Gratis - Saving Private Ryan + Subtitle Indonesia


download film gratis saving privat ryan
Source: DVDRip
Country: USA, France
Language: English
Released : 24 Jul 1998
Genre : Action, Adventure, Drama, History, War
Starcast : Tom Hanks, Tom Sizemore, Matt Damon, Edward Burns, Jeremy Davies, Barry Pepper, Giovanni Ribisi, Vin Diesel, Adam Goldberg, Dennis Farina











Review Saving Private Ryan

Film yang meraih 4 piala oscar di tahun 1999 ini mengisahkan tentang James Ryan (Matt Damon), prajurit yang diterjunkan ke Perancis selama invasi tentara sekutu ke Eropa, yang baru saja kehilangan tiga abangnya dalam perang.

Kebijakan pemerintah memerintahkan ia harus pulang karena keluarganya tidak mau kehilangan semua anak laki-lakinya.

Sebuah tim pasukan, yang dipimpin oleh Kapten John Miller (Tom Hanks) dan tentara lain-nya yang baru mendarat di pantai dari Normandy, diperintahkan untuk mencari dan menyelamatkan Prajurit James Ryan tersebut.


Trailer Saving Private Ryan







Download Film Gratis Nya

Download Part 1
Download Part 2

Download Film Lebih Cepat dengan UCWEB klik!

Jenis File: AVI
Ukuran: 258 MB



Download Subtitle Nya

Download Part 1
Download Part 2

Download Film Lebih Cepat dengan UCWEB klik!

Jenis File: SUB

Download Film Gratis: Jokowi

Rabu, 23 April 2014

Download Film Gratis - Jokowi


download film gratis jokowi
Source: DVDRip
Released: 20 Juni 2013
Country: Indonesia
Language: Indonesian
Genre: Drama
Director: KK Dheeraj
Writer: Azhar Kinoy Lubis
Starcast: Teuku Rifnu Wikana, Prisia Nasution, Ayu Dyah Pasha, Susilo Badar, Landung Simatupang, Ratna Riantiarno










Review

Selain film-film yang naskah ceritanya mengadaptasi sebuah novel, penonton Indonesia sepertinya saat ini sedang benar-benar menggemari film-film biopik yang jalan ceritanya menghadirkan kisah hidup para tokoh masyarakat populer. Tercatat, film-film seperti Sang Pencerah (2010), Soegija (2012), Habibie & Ainun (2012) hingga Sang Kiai (2013) mampu membujuk penonton Indonesia – yang dikenal sulit untuk datang ke bioskop dan menyaksikan film produksi negara mereka sendiri – untuk kemudian datang secara beramai-ramai dan menikmati kembali perjalanan hidup tokoh idola mereka.

Tidak mengherankan bila kemudian KK Dheeraj – yang namanya akan selamanya terpaut pada film-film seperti Genderuwo (2007), Anda Puas Saya Loyo (2008) atau Mr. Bean Kesurupan Depe (2012) yang diproduksi oleh rumah produksi yang ia miliki, K2K Production – secara jeli mencoba untuk memanfaatkan peluang pasar tersebut.

Tokoh yang coba ia angkat? Tidak lain adalah sosok Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang sedang menjabat, Joko Widodo atau yang lebih akrab dengan sebutan Jokowi, yang kepopuleran figurnya memang begitu menanjak di kalangan masyarakat Indonesia saat ini. Jokowi sendiri sama sekali tidak mencoba menceritakan mengenai bagaimana kisah perjuangan Jokowi untuk mencapai posisinya saat ini di pemerintahan. Jokowi bahkan terlihat sama sekali berusaha menjauh dari berbagai sisi kehidupan Jokowi yang bersinggungan dengan dunia politik.

Naskah cerita yang ditulis oleh Joko Nugroho bersama sutradara Azhar Kinoi Lubis justru lebih memilih untuk menggambarkan bagaimana kehidupan seorang Jokowi di masa lampau, bagaimana kedua orangtuanya berusaha untuk membesarkannya hingga bagaimana perjalanan hidupnya tersebut mampu membentuk karakter seorang Jokowi hingga seperti saat ini.

Dengan tambahan dramatisasi di beberapa sudut cerita, Jokowi mampu tampil cukup lancar untuk bercerita meskipun usaha pengagungan karakter Jokowi yang terasa sedikit berlebihan membuat jalan cerita film ini lebih terasa sebagai sebuah sajian drama daripada sebuah biopik yang dapat membentuk hubungan emosional kepada penontonnya.

Jalan cerita Jokowi sendiri dimulai ketika Joko Widodo (Ilham Rohman Wijaya/Ilham Ridho Ilahi/Vincentius Aldy Pyo/Teuku Rifnu Wikana) terlahir dari pasangan Notomiharjo (Susilo Badar) dan Sujiatmi (Ayu Dyah Pasha). Berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi yang dapat disebut pas-pasan, Joko seringkali harus melalui kesehariannya dengan serba kekurangan.

Walaupun begitu, baik ayah dan ibunya selalu memastikan agar Joko dapat tetap terus mengenyam pendidikan yang layak sekaligus mengajarinya menjadi sosok yang jujur serta berani dalam dalam menghadapi kehidupan. Usaha tersebut tidak sia-sia. Selain menjadi sosok yang cerdas dalam melalui setiap jenjang pendidikannya, Joko juga tumbuh menjadi sosok yang tidak takut dalam menghadapi berbagai tantangan hidupnya serta selalu mengedepankan kesederhanaan serta kejujuran dalam setiap perbuatannya.

Harus diakui, sebagai sebuah biopik, Jokowi memiliki terlalu sedikit sudut penceritaan yang menarik untuk dapat dijabarkan kepada penontonnya. Hal inilah yang mungkin menyebabkan Joko Nugroho dan Azhar Kinoi Lubis memilih untuk lebih berkonsentrasi pada penceritaan kisah hidup karakter Joko Widodo semasa kecil – masa-masa dimana ia melalui gemuruh pemberontakan PKI, berbagai tantangan hidup yang harus dilalui orangtuanya serta kerikil-kerikil kecil yang terhampar pada jalanan hubungan antara dirinya dan sang ayah.

Begitu kuatnya peran masa kecil karakter Joko Widodo mengambil tempat di naskah cerita film ini, lebih dari separuh durasi Jokowi yang sepanjang 117 menit tersebut dihabiskan untuk memaparkan bagian penceritaan tersebut. Langkah yang dipilih dalam penceritaan Jokowi tersebut sebenarnya tidak salah. Namun, karakterisasi yang diberikan pada Jokowi membuatnya lebih terlihat sebagai sosok yang suci daripada sosok manusia yang mampu menyerap dan belajar dari pengalaman hidupnya untuk menjadi sosok yang lebih arif ketika dewasa. Jauh dari kesan humanis.

Terlebih lagi, ketika linimasa penceritaan berpindah ke masa dewasa karakter Jokowi, film ini terlihat bergerak dengan begitu cepat dalam memasukkan berbagai unsur ceritanya, mulai dari masa pendidikan sekolah serta kuliahnya, hubungan romansanya hingga usahanya untuk mampu menjadi sosok pria yang mandiri. Terasa begitu timpang antara pengisahan masa kecil karakter Joko Widodo yang tersaji dengan fokus yang kuat dengan masa dewasanya yang terkesan hanya dihadirkan bagai kilasan-kilasan kejadian belaka.

Terlepas dari kelemahan dari sisi penulisan naskahnya, Jokowi harus diakui mampu dihadirkan dengan dukungan penampilan akting serta kualitas produksi yang cukup memuaskan. Dua pemeran Jokowi, Vincentius Aldy Pyo yang memerankan Jokowi di masa kecil serta Teuku Rifnu Wikana yang memerankan karakter tersebut di masa dewasa, mampu memberikan kehidupan pada karakter yang mereka mainkan, mulai dari gestur tubuh hingga tata bicara karakter tersebut – meskipun rambut palsu yang digunakan oleh Teuku Rifnu Wikana dalam memerankan karakter Joko Widodo harus diakui benar-benar terlihat menggelikan dan cukup mengganggu.

Penampilan Prisia Nasution yang berperan sebagai love interest bagi karakter Joko Widodo juga berjalan begitu alami walaupun dengan porsi romansa yang begitu terbatas dan kurang tergali dengan baik. Tiga pemeran pendukung film ini, Susilo Badar, Ayu Dyah Pasha serta Sulung Landung, yang masing-masing berperan sebagai ayah, ibu dan kakek dari karakter Joko Widodo juga harus diakui mampu memberikan penampilan yang begitu kuat dan emosional. Peran ketiganya juga yang sering memberikan nilai tambah pada jalan penceritaan Jokowi yang kadang terkesan terlalu mendramatisasi keadaan secara berlebihan.

Kualitas tata produksi Jokowi juga mampu tampil mengesankan dengan desain produksi yang mampu membawa penontonnya ke atmosfer cerita yang berlatarbelakangkan masa lalu dengan baik hingga tata sinematografi arahan Muhammad Firdaus yang mampu menghasilkan gambar-gambar bernuansa keras namun tetap indah untuk disaksikan. Meskipun kualitas penceritaan Jokowi – tidak buruk namun minim dalam menghadirkan rangkaian kisah yang menarik sebagai sebuah biopik – sama sekali tidak menjawab pertanyaan mengapa biopik ini terasa esensial untuk diproduksi selain untuk urusan komersial, namun Jokowi masih beruntung didukung dengan talenta-talenta kuat yang mengisi departemen akting serta tata produksinya.


Berkat bantuan mereka, Jokowi masih mampu berjalan cukup lancar dalam mengalirkan kisahnya meskipun seringkali gagal untuk membuat penonton benar-benar peduli dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam jalan penceritaan film ini. Lebih dari itu, Jokowi mungkin hanya dapat dipandang sebagai sebuah usaha yang cukup baik namun masih kekurangan amunisi yang tepat untuk dapat mengeksekusinya sehingga mampu menjadi sebuah presentasi yang mengesankan secara keseluruhan.

sumber: http://amiratthemovies.wordpress.com/2013/06/28/review-jokowi-2013/


Trailer






Download Film Gratis Nya

Download Part 1
Download Part 2

Alternatif: Part 1 - Part 2
File Format: AVI
Resolusi: 500x250
Durasi: 1 Jam - 48 Menit - 48 Detik
Ukuran: 228 mb

Download Film Gratis; Black Hawk Down + Subtitle Indonesia

Selasa, 15 April 2014

Download Film Gratis - Black Hawk Down + Subtitle Indonesia


Source: BRRip
Released: 2001
Country: USA | UK
Language: English | Somali
Genre: Drama | Thriller | History | War
Director: Ridley Scott
Writers: Mark Bowden (book),  Ken Nolan (screenplay)
Starcast: Josh Hartnett, Eric BanaEwan,  McGregor, Tom Sizemore, William: Fichtner, Tom Hardy, Orlando Bloom










Preview

Black Hawk Down  merupakan film layar lebar ke-11 yang disutradarai oleh Ridley Scott tahun 2001. Karena penggarapannya yang serius pada film ini sehingga mengantarkan Black Hawk Down ke pentas Oscar 2002 dengan mengantungi 4 nominasi. Dari 4 nominasi yang didapatkan, ia berhasil membawa pulang dua piala Oscar, yaitu menang kategori Best Editing dan Best Sound. Dua kategori gagal dimenangkan, yaitu Best Cinematography dan yang paling diinginkan oleh semua sutradara, Best Director.

Sebagai informasi, di tahun 2001 itu juga, Ridley mengeluarkan karyanya yang lain, Hannibal yang dibintangi Anthony Hopkins dan Julianne Moore. Sayangnya tak seperti Black Hawk Down, film yang cukup dipuji kritikus itu tak mengantungi satu pun nominasi.

Kembali ke Black Hawk Down, film yang dibuat berdasarkan kejadian nyata ini dibukukan oleh seorang penulis bernama Mark Bowden dengan judul Black Hawk Down: A Story of Modern War. Buku ini menggambarkan sengitnya pertempuran Mogadishu di mana sekelompok pasukan Amerika Serikat melakukan penyerbuan untuk menangkap penguasa Somalia, Mohamed Farrah Aidid.

Dengan sandi operasi berjuluk Irene, Jenderal Garrison (Sam Shepard) mengetuai serangan yang dilakukan oleh pasukan Delta, Ranger dan Resimen Operasi Khusus ke-160 dengan misi menangkap para kaki tangan dan bawahan penting dalam pemerintahan Farrah Aidid.

Serangan ini dipusatkan pada pasar Bakara, tempat yang dicurigai berkumpulnya orang-orang penting di bawah Aidid. Jenderal Garrison memperkirakan bahwa misi ini akan berlangsung tidak lebih dari setengah jam dengan membawa hasil yang diinginkan.

Pasukan Ranger yang dipimpin oleh Sersan Matt Eversmann (Josh Hartnett) diberi tugas untuk menyelesaikan misi ini dan diberi pesan agar jangan seorang pun dari pasukan yang ditinggalkan di medan pertempuran. Namun misi tak berjalan dengan mulus dan melenceng dari perkiraan semula.

Semuanya diawali oleh jatuhnya Pratu Todd Blackburn (Orlando Bloom) sewaktu akan melakukan penurunan dari helikopter. Serangan dengan persenjataan berat oleh para milisi Somalia kepada mereka semakin mempersulit misi tersebut. Korban dari pihak militer Amerika Serikat dan milisi mulai berjatuhan. Semuanya semakin diperparah dengan jatuhnya helikopter pemberi bantuan udara yaitu Black Hawk setelah dihantam dengan tembakan peluru roket dari pasukan milisi. Situasi pun semakin memanas dan runyam setelah satu helikopter kembali jatuh.

Misi yang semula diperkirakan berlangsung cepat dan singkat seketika berubah menjadi mimpi buruk yang tak bisa dibayangkan. Namun sesuai pesan yang diberikan pada mereka bahwa tak boleh ada yang ditinggalkan, mereka pun menuju ke lokasi jatuhnya kedua helikopter untuk mengevakuasi pilot dan awak yang ada di dalamnya. Dua orang penembak jitu dari pasukan Delta, Randy Shughart dan Gary Gordon akhirnya gugur dalam tugas setelah berusaha menyelamatkan salah seorang pilot yang selamat. Keduanya dianugerahi Medali Kehormatan Anumerta.

Sementara itu para prajurit yang memiliki sifat yang berbeda-beda harus bahu-membahu menyelamatkan rekan mereka yang terjebak dalam pertempuran yang berlangsung sepanjang malam.

Di Balik Produksi Black Hawk Down Film yang meraih pendapatan sebesar US$108 juta dolar lebih ini pada awalnya merupakan gagasan sutradara Simon West yang menyarankan produser Jerry Bruckheimer untuk membeli hak cipta buku Black Hawk Down: A Story of Modern War buah karya Mark Bowden dan mengijinkan West untuk menyutradarai jika filmnya dibuat.

Namun akhirnya West beralih ke proyek lain di mana dia lebih tertarik menyutradarai film yang diadapsi dari sebuah video game terkenal. Judul film itu adalah Lara Croft: Tomb Raider (2001). Film pun kemudian diserahkan penanganannya pada Ridley Scott. Agar tampak terlihat nyata, para aktor pun diberikan pelatihan militer yang sebenarnya untuk menghayati peran yang mereka mainkan.

Para aktor yang berperan sebagai anggota pasukan Delta pun diberikan pelatihan selama dua minggu, khususnya para aktor yang berperan sebagai pilot. Sebagai informasi bahwa pelatihan pilot ini diarahkan oleh Mike Durant yang asli sendiri di mana dia memang pernah ditawan selama beberapa hari oleh milisi Somalia dan akhirnya dibebaskan.

Film pun mengambil lokasi syuting bukan di Somalia, tapi di Rabat dan Sale, Maroko. Tak satu pun aktor atau orang Somalia yang terlibat dalam pembuatan film ini. Film Black Hawk Down sendiri ditaburi oleh banyak bintang besar yang berperan sebagai tentara Amerika Serikat. Namun mereka sendiri berasal dari berbagai negara di belahan dunia: Ewan McGregor sebagai John Grimes berasal dari Skotlandia, Eric Bana sebagai Sersan Hoot berasal dari Austria, Jason Issacs yang kita kenal lewat perannya sebagai Lucius Malfoy di franchise Harry Potter dan si peri Orlando Bloom di trilogi Lord of the Rings berasal dari Inggris, Kim Coates dari Kanada, dan masih banyak lagi yang lainnya yang mungkin kalian kenal dalam film ini.

Battle of Mogadishu Pertempuran Mogadishu (Battle of Mogadishu) merupakan bagian dari Operation Gothic Serpent yang berlangsung pada tanggal 3 dan 4 Oktober 1993 di Mogadishu, Somalia, antara pasukan Amerika Serikat yang dibantu oleh UNOSOM II dan pasukan milisi Somalia yang setia pada penguasa Mohamed Farrah Aidid yang mendapat dukungan dari pejuang rakyat sipil bersenjata.

Di bawah arahan Jenderal William F. Garrison, operasi ini dilakukan untuk menagkpa para pemimpin suku Habr Gid yang diketuai oleh Mohamed Farrah Aidid sendiri. Pasukan tersebut terdiri dari 19 pesawat udara, 12 kendaraan darat, termasuk beberapa jip Humvee, dan 160 prajurit.

Selama operasi tersebut, helikopter Black Hawk Down jatuh tertembak. Tiga helikopter lainnya rusak parah. Beberapa prajurit yang terluka yang mampu dievakuasi dibawa ke pangkalan militer, namun yang lainnya terjebak di daerah lokasi helikopter jatuh. Pertempuran sengit dengan milisi setempat berlangsung sepanjang malam. Keesokan paginya, pasukan gabungan dikirim untuk membantu para prajurit yang terjebak. Pasukan gabungan tersebut terdiri dari pasukan Pakistan, Malaysia dan Divisi Mountain ke-10 Amerika Serikat.

Mereka mengerahkan 100 kendaraan darat, termasuk tank M60 milik militer Pakistan dan kendaraan pengangkut lapis baja Condor milik militer Malaysia, serta beberapa dukungan udara. Angka korban tewas dari pihak Somalia tak diketahui secara pasti, namun diperkirakan beberapa ratus sampai lebih dari seribu milisi dan penyerang tewas, dengan jumlah korban terluka adalah 3.000 sampai 4.000 orang.

Komite Palang Merah Internasional memperkirakan 200 milisi Somalia tewas dan beberapa ratus orang terluka dalam pertempuran sengit tersebut. Buku Black Hawk Down: A Story of Modern War memperkirakan 700 orang milisi tewas dan lebih dari 1.000 orang terluka, namun Somali National Alliance mengumumkan bahwa hanya 133 orang tewas dalam pertempuran itu.

Menurut koran Washington Post, 312 orang tewas dan 814 orang terluka. Pada awalnya, Pentagon melaporkan 5 tentara Amerika Serikat tewas, namun akhirnya menjadi 18 orang tewas dan 73 orang terluka. Di pihak pasukan PBB, satu orang tentara Malaysia tewas, tujuh tentara Malaysia dan dua tentara Pakistan terluka.

Di waktu itu, pertempuran ini menjadi pertempuran paling berdarah yang melibatkan pasukan militer Amerika Serikat setelah perang Vietnam setelah akhirnya berpindah pada Second Battle of Fallujah di Irak tahun 2004. Pada tanggal 2 Agustus 1996, penguasa Mohamed Farrah Aidid tewas di Mogadishu. Di hari berikutnya, Jenderal Garrison pensiun.

Kontroversi Seputar Black Hawk Down: Begitu Black Hawk Down dirilis, Somali Justice Advocay Center di California mengecam bahwa apa yang ada dalam film tersebut adalah brutal dan secara tidak manusiawi menggambarkan diri masyarakat Somalia. Mereka menyerukan untuk memboikot film ini.

Dalam sebuah wawancara radio, seorang aktor dalam film ini, Brendan Sexton mengatakan bahwa film ini sangat berbeda sekali dari yang diceritakan dalam naskah aslinya. Menurutnya, banyaknya adegan yang ada menimbulkan pertanyaan yang sulit terjawab oleh militer Amerika Serikat sehubungan dengan realita mengenai kekerasan perang, apa tujuan mereka yang sebenarnya di Somalia, dan lain sebagainya, yang tidak ditampilkan di film ini.

Sexton kemudian menulis sebuah artikel di tahun 2002 di mana dia berpendapat bahwa film Black Hawk Down gagal memberikan penjelasan di balik perlawanan masyarakat Somalia terhadap kehadiran militer Amerika Serikat di negara mereka. Tulisnya: “Masyarakat Somalia seolah-olah digambarkan tidak tahu akan apa yang terjadi. Mereka hanya terlihat berusaha membunuh orang Amerika – sama seperti penjahat lainnya – akan melakukan apa saja untuk menggigit tangan yang memberi mereka makan. Tapi masyarakat Somalia bukanlah orang-orang yang bodoh. Bahkan banyak dari mereka yang geram karena kehadiran militer Amerika mendukung rezim Barre yang korup.

Dalam ulasannya di New York Times, kritikus film Elvis Mitchell mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap “kurangnya karakterisasi” yang ada dalam film dan menambahkan bahwa film ini “nyaris berbau unsur rasisme”. Kritik juga dilayangkan pada para aktor Afro-Amerika yang dipilih untuk memerankan orang Somalia di mana dalam film ini tak sedikit pun memperlihatkan bagian yang unik dari orang Somalia.

Begitu juga dengan pengucapan bahasa yang sedikit pun tidak menyerupai khas orang Somalia. Mereka gagal menangkap dialek, kebiasaan dan semangat hidup orang Somalia sebenarnya. Tak lama setelah Black Hawk Down dirilis, penulis Mark Bowden, yang juga menulis skenario film ini mengatakan pada surat kabar bahwa karakter yang dimainkan oleh Ewan McGregor didasarkan pada Ranger John Stebbins, “Namun pejabat di Pentagon meminta namanya diubah dalam upaya menjaga rasa malunya karena kasus sodomi dan pemerkosaan terhadap putrinya yang berumur 6 tahun.

Alih-alih, nama ini diubah menjadi John Grimes dengan “alasan kreatif”. Pejabat militer Malaysia yang pasukannya terlibat dalam Battle of Mogadishu melayangkan keluhan tentang keakurasian film ini. Brigadir Jenderal Purnawirawan Abdul Latif-Ahmed, yang pada saat itu mengetuai pasukan Malaysia di Mogadishu, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa penonton di Malaysia akan mendapatkan kesan bahwa pertempuran sesungguhnya dilakukan sendiri oleh Amerika, sementara pasukan Malaysia adalah “supir bus yang datang untuk mengangkut mereka”.

Jenderal Perves Musharraf, yang kemudian hari menjadi Presiden Pakistan setelah kudeta, juga menuduh para pembuat film ini tidak menghargai kerja baik yang dilakukan oleh tentara Pakistan. Dalam biografinya berjudul In the Line of Fire: A Memoir, dia menuliskan: “Kinerja luar biasa pasukan Pakistan di saat situasi buruk itu sangat dihargai dan dikenal oleh PBB. Sayangnya, film Black Hawk Down mengabaikan peran penting Pakistan di Battle of Mogadishu.


Saat pasukan Amerika Serikat terjebat di wilayah pemukiman yang padat di kawasan Madina Bazaar di Mogadishu, Resimen Angkatan Darat Garis depan Ketujuh Pakistan-lah yang membantu membebaskan mereka. Keberanian pasukan Pakistan mestinya juga diberi penghargaan yang pantas, namun di film ini seolah insiden hanya melibatkan tentara Amerika saja.

sumber: http://rizaladam.wordpress.com/2011/02/18/black-hawk-down-2001/



Trailer




Download Film Gratis Nya

Download Now

Download Film Lebih Cepat dengan UCWEB klik!

Alternatif: Link 1 - Link 2 - Link 3 - Link 4
Jenis : AVI
Ukuran : 210 mb
Durasi : 2 Jam - 24 Menit - 19 Detik
Source : BRRip



Download Subtitle Nya

Download Now

Download Film Lebih Cepat dengan UCWEB klik!

Bahasa : Indonesia
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Rizal Adam (Subscene.com)