Source: BRRip
Released: 19 February 2009 (Singapore)
Country: USA | Germany
Language: English | Norse, Old | Latin
Genre: Action | Adventure | Sci Fi
Director: Howard McCain
Writers: Dirk Blackman, Howard McCain
Starcast: Jim Caviezel, Sophia Myles, Ron Perlman
Sinopsis
Film Outlander ini adalah sebuah film yang cukup unik karena menggabungkan 2 unsur yang sangat bertentangan, yaitu unsur peradaban kuno dan peradaban modern. Disutradarai oleh Howard McCain dan dibintangi oleh James Caviezel.
Kainan, seorang manusia dari luar angkasa, jatuh ke bumi pada masa kerajaan Viking di tahun 709. Dia mulai mempelajari bahasa dan budaya planet itu dengan menggunakan mesin penterjemah. Seekor alien predator yang ikut serta dengannya terlepas di bumi dan mulai meneror bangsa Viking di daerah Herot, Norwegia.
Saat mengejar monster itu, dia menemukan sebuah desa yang sudah dihancurkan, dia ditangkap oleh pendekar Wulfric, yang percaya bahwa dialah yang membunuh orang-orang di desa itu. Pada akhirnya, Kainan harus memimpin bangsa Viking untuk membunuh alien tersebut menggunakan teknologi bangsanya yang digabungkan dengan keahlian bangsa Viking dalam membuat pedang.
Trailer
Download Film Gratis Nya Download Now
Alternatif: link 1, Link 2, Link 3, Link 4
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 640x272
Durasi: 1 Jam - 54 Menit - 57 Detik
Ukuran: 245 mb
Source: BRRip
Released: 10 October 2008 (UK)
Country: USA | UK
Language: English
Genre: Action | Adventure | Horror | Sci Fi
Director: Simon Hunter
Writer: Philip Eisner
Starcast: Thomas Jane, Ron Perlman, Devon Aoki
Sinopsis
Tahun 2707, Semua sumber daya bumi telah habis dikonsumsi manusia dan kekuasaan berada di tangan empat perusahaan besar yang menguasai seluruh dunia. Keempat perusahaan tersebut selalu berperang satu dengan yang lain untuk berebut wilayah. Dalam sebuah peperangan, secara tidak sengaja para tentara dari perusahaan besar tersebut membuka sebuah segel yang sebenarnya mengunci The Machine yang berencana mengubah seluruh manusia menjadi mutant. The Machine datang dari luar angkasa dengan tujuan yang sama berabad sebelumnya namun berhasil dikalahkan dan dikunci.
Makin lama, penduduk dunia banyak yang berubah menjadi monster yang mengerikan. Jari mereka berubah meruncing, dan tidak memiliki rasa takut menghadapi senjata apapun. Dengan adanya ancaman baru tersebut, manusia harus meninggalkan bumi supaya tidak musnah. Tetapi waktu untuk mengevakuasi seluruh manusia ke planet terdekat yang bisa dihuni tidak mencukupi. Akhirnya Brother Samuel (Ron Perlman), pemimpin aliran kepercayaan yang mengetahui seluk beluk manusia mutant menawarkan sebuah misi penghancuran mesin pembuat mutant. Brother Samuel mengumpulkan beberapa tentara untuk menjalankan misi tersebut.
Source: BRRip
Released: 24 February 2006 (USA)
Country: Germany | USA
Languag: English | Russian
Genre: Action | Crime | Drama | Thriller
Director: Wayne Kramer
Writer: Wayne Kramer
Starcast: Paul Walker, Cameron Bright, Chazz Palminteri
Review
Film karya Wayne Kramer ini menyajikan ketegangan dari awal hingga akhir, dan memberikan sebuah ending yang tak terduga. Film ini memiliki plot yang sangat kompleks, mengingatkan kita pada Pulp Fiction, dan sedikit banyak mengingatkan kompleksitas ala Crash, Amores Perros, dan 21 Grams. Ya, Kalau suka film action, thriller dengan twist ending, alur cerita yang kompleks, film ini layak untuk Anda.
Joey Gazalle hanyalah seorang pemuda yang bekerja pada Tommy Perello, putera dari seorang bos mafia Italia. Suatu ketika aktivitas kriminal Tommy dkk tak sengaja membawa mereka berhadapan dengan para polisi korup. Dalam keadaan terdesak, Tommy dkk pun menghabisi para polisi korup tersebut. Joey pun diperintahkan untuk memusnahkan pistol yang digunakan oleh Tommy dkk. Namun, sebuah kecerobohan yang dilakukan oleh Joey mengubah segalanya menjadi malapetaka.
Film aksi thriller garapan Wayne Kramer ini dibumbui dengan adegan-adegan kasar atau sadis serta gaya editing dan pengambilan angle kamera yang tak lazim. Terasa sekali bahwa Kramer terinspirasi oleh film-film karya Quentin Tarantino, John Woo, dan Tony Scott. Untuk pemeran utamanya sendiri dipilih Paul Walker. Nama aktor muda ini langsung melejit setelah sukses membintangi Fast and the Furious dan sequelnya.
Sementara itu, Kramer selaku penulis cerita dan sutradara, memang diberi kebebasan bereksperimen dengan film garapannya ini. Alhasil, adegan-adegan aksi yang dipadu dengan visual efek serta angle kamera yang tak biasa banyak ditemui dalam film ini, sayangnya terkadang adegan-adegan tersebut justru membuat kita yang menontonnya menjadi sedikit pusing.
Sebagai sebuah film aksi thriller, Running Scared, memang menawarkan gaya penggarapan yang sedikit berbeda dari segi editing dan angle kamera, kendati begitu rasanya bagi mereka yang suka akan film aksi, gak ada salahnya menyaksikan film ini yang menampilkan cukup banyak adegan baku tembak yang dijamin akan memuaskan para moviegoers, terutama mereka yang nge-fans akan si aktor muda, Paul Walker.
Source: HDCAM
Released: 6 June 2014 (USA)
Country: USA | Australia
Language: English
Genre: Action | Sci Fi
Director: Doug Liman
Writers: Christopher McQuarrie (screenplay), Jez Butterworth (screenplay)
Starcast: Tom Cruise, Emily Blunt, Bill Paxton
Review
Biasanya adaptasi Hollywood terhadap materi yang berasal dari luar Amerika seperti komik dan novel dari Jepang atau Korea tidak pernah memuaskan. Kekecewaan tersebut seringkali karena terjadinya perubahan signifikan dalam film yang justru mengurangi kekuatan utama dari sumber cerita tersebut.
Karena itulah saat mendengar Hollywood akan mengadaptasi All You Need is Kill, sebuah light novel (novel Jepang yang mengambil target pasar para remaja) karya Hiroshi Sakurazaka tidak begitu tertarik. Meskipun punya dasar cerita yang cukup menarik yakni tentang seorang prajurit yang terbunuh di medan perang hanya untuk hidup kembali secara terus menerus dan mengulangi peperangan yang sama serta kehadiran berbagai nama besar mulai dari Tom Cruise, Emily Blunt, Bill Paxton dan Brendan Gleeson.
Film ini juga disutradarai oleh Doug Liman (The Bourne Identity, Mr & Mrs. Smith, Jumper) dan mempunyai Christopher McQuarrie (The Usual Suspects, The Wolverine) sebagai salah satu penulis naskahnya. Sedari pembukanya kita sudah langsung diajak melihat kondisi masa depan dimana Bumi tengah berada dalam ancaman kehancuran akibat kedatangan ras alien bernama Mimic yang berhasil menghancurkan banyak tempat dan membunuh banyak manusia.
Namun disaat harapan seolah sudah menghilang bagi umat manusia, pasukan militer Bumi pada akhirnya berhasil meraih satu kemenangan dalam sebuah pertempuran setelah rangkaian kekalahan yang dialami. Kemenangan itu berhail diraih berkat penggunaan baju mesin tempur yang membuat para tentara bisa memiliki kekuatan luar biasa lengkap dengan persenjataan berat.
Kehadiran Rita Vrataski (Emily Blunt) yang sanggup membunuh ratusan mimics dalam satu kali pertempuran juga menjadikannya simbol peperangan dan memberikan harapan baru bagi umat manusia. Disisi lain, ada Mayor William Cage (Tom Cruise) yang selama ini bertugas untuk mempromosikan peperangan tersebut guna menarik dukungan masyarakat. Tapi diluar dugaan, pada sebuah pertempuran vital ia "dipaksa" oleh Jenderal Brigham (Brendan Gleeson) untuk terjun langsung ke baris depan peperangan.
Cage yang belum pernah mendapat latihan dasar militer apalagi terjun ke medan perang tentu saja tidak bisa berbuat banyak melawan para alien tersebut meski telah memakai baju perang yang canggih. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya ia terbunuh meski sempat menghabisi salah satu alien. Yang mengejutkan, Cage terbangun kembali pada waktu beberapa jam sebelum peperangan terjadi. Hal itu kemudian terjadi secara berulang-ulang dan bagi Cage itu menjadi latihan yang terus membuatnya lebih baik dalam medan perang. Dengan bantuan Rita, Cage kini berusaha mencari cara untuk meraih kemenangan dalam peperangan tersebut.
Sebenarnya Edge of Tomorrow dimulai dengan tidak terlalu meyakinkan. Narasi dengan gaya realistis yang membuka film ini terkesan numpang lewat saja. Narasi pembuka macam ini seharusnya bisa menghadirkan kesan realistis dan membuat penonton ikut merasakan bagaimana mengerikan atau kacaunya situasi saat itu (salah satu contoh yang berhasil adalah pembukaan Pacific Rim), tapi film ini gagal menghadirkan kesan tersebut. Alurnya masih belum begitu menarik setelah filmnya berjalan beberapa saat meskipun harus diakui melihat Tom Cruise yang tidak berperan sebagai tough guy (pada awal hingga pertengahan film) cukup menyenangkan dan menyegarkan.
Yang tidak terlalu tahu banyak tentang film ini sebelum menontonnya pun cukup terkejut melihat bagaimana sosok William Cage lebih tepat disebut sebagai pengecut pada saat filmnya dimulai, dan Cruise sanggup memerankan semua itu dengan baik dan mengingatkan kita bahwa dia adalah aktor bagus yang tidak hanya ahli memainkan adegan aksi. Tapi semuanya jadi terasa semakin menarik saat Cage menemui ajalnya untuk pertama kali. Bisa dibilang saat itu Edge of Tomorrow sudah selesai dengan segala basa-basinya dan sudah mulai tancap gas. Momen setelah itu semakin terasa menarik saat Cage semakin banyak menemui ajalnya.
Salah satu daya tarik utamanya adalah bagaimana Doug Liman sanggup mengemas segala repetisi tersebut dengan begitu menarik dan tidak hanya mengulangi apa yang sudah terjadi. Setiap kematian yang dialami Cage pun terasa "menyenangkan" untuk dilihat berkat berbagai macam cara berbeda yang digunakan. Kita selalu dibuat penasaran untuk menunggu akan seperti apa kematian Cage yang berikutnya. Belum lagi ditambah dengan sentuhan komedi yang sering muncul dan diluar dugaan sangat efektif memancing tawa penonton. Komedinya berjalan baik berkat timing sesuai dari Doug
Liman serta pembawaan yang pas dari Tom Cruise. Ya, disini Cruise tidak hanya harus menjadi sosok pengecut di awal film tapi juga seringkali terkesan bodoh dengan segala kelakuannya apalagi saat dia masih belum terlatih dan harus dipaksa menghadapi segala jenis kematian. Komedinya berjalan tanpa dipaksakan, karakter Cage bisa terlihat lucu bahkan bodoh juga tanpa harus dibuat-buat, timing komedinya pun tidak hanya sesuai tapi juga seringkali mengejutkan. Semuanya semakin terasa menarik setelah karakter Rita mulai banyak terlibat.
Tidak hanya berkat kehebatan Emily Blunt memerankan sosok wanita perkasa, tapi juga interaksi yang ia bangun dengan Tom Cruise selalu menyenangkan. Rita yang keras dan Cage yang awalnya bodoh nyatanya sanggup menciptakan interaksi yang menyenangkan untuk dilihat. Berkat chemistry kuat antara Cruise dan Blunt, kita akan bisa merasakan sebuah hubungan yang simpatik diantara keduanya dan menciptakan sebuah kisah romansa yang mengalir secara perlahan dan natural. Terkadang kisah cinta dalam film aksi seperti ini muncul dengan dipaksakan, dan tanpa berhasil membuat ikatan yang kuat pada penonton untuk bisa bersimpatik pada keduanya. Tapi Edge of Tomorrow berhasil melakukan itu dan membuat kita akan menyukai hubungan Cage dan Rita.
Lalu jika bicara tentang adegan peperangannya memang diluar dugaan tidak terlalu banyak yang hadir, tapi berkat eksekusi yang baik dan efek CGI yang terlihat begitu menyatu kuantitas yang tidak terlalu banyak itu berhasil ditutupi oleh kualitasnya. Yang disayangkan adalah para J-Squad yang kemunculannya di bagian ini tersia-siakan. Overall ini adalah sebuah tontonan yang diluar dugaan amat menyenangkan dan salah satu blockbuster terbaik tahun ini.
Source: BRRip
Released: 27 October 2012 (Japan)
Country: USA | Japan
Language: English | Russian
Genre: Animation | Action | Horror | Sci Fi | Thriller
Director: Makoto Kamiya
Writer: Shotaro Suga (screenplay)
Starcast: Matthew Mercer, Dave Wittenberg, Wendee Lee
Review
Hampir bersamaan dengan dirilisnya Resident Resident Evil 5: Retribution Capcom pun merilis film CG Resident Evil: Damnation. Sebenarnya ini bukan kali pertama Capcom merilis film CG Resident Evil karena mereka pernah melakukannya melalui Resident Evil: Degeneration tahun 2008 lalu. Toh walaupun disebut sebagai sekuel dari Resident Evil: Degeneration kisah film ini sama sekali tidak ada kaitannya. Betul, itu artinya karakter Claire Redfield, Angela Miller, sampai Curtis Miller dengan organisasi Tricell tidak akan disebut-sebut apalagi muncul dalam film ini. Jadi mengenai apakah sebenarnya film ini?
Resident Evil: Damnation mengambil setting di sebuah negara fiktif pecahan Uni Soviet: East Slavic Republic. Walaupun sudah ‘merdeka’ perang sipil antara tentara pemerintah di bawah Presiden Svetlana Belikova dan para pemberontak yang dipimpin para tetua (Elder) terus membuat East Slavic Republic bergolak. Perang yang terus berlarut-larut membuat kedua belah pihak meningkatkan kemampuan mereka. Walhasil perang tak hanya berlangsung dengan pistol dan peluru semata tetapi mulai memakai senjata biologis.
Rumor bahwa ada senjata biologis inilah yang kemudian membawa salah satu agen terbaik pemerintah Amerika Serikat, Leon S. Kennedy, ke sana. Belum Leon sadar betapa berbahayanya keadaan di sana ia tahu-tahu sudah terseret dalam konflik politik kedua pihak perang sipil. Tak hanya Leon harus bertahan hidup dari para penduduk East Slavic yang terkena parasit Las Plagas ia juga harus menghadapi ancaman para BOW alias senjata biologis yang dijadikan alat perang.
Di sisi lain Presiden Svetlana Belikova kedatangan seorang tamu VIP yang menjanjikannya bisa memenangkan perang menumpas para pemberontak. Tamu itu pun familiar oleh Leon dan kita semua yang telah memainkan Resident Evil 2 dan 4; tak lain tak bukan: Ada Wong. Bisakah Leon lolos hidup-hidup dari konflik politik dan biologis yang ia hadapi?
Ada jeda waktu empat tahun antara Resident Evil: Damnation dan prekuelnya sehingga peningkatan kualitas CG-nya sangat terasa. Raut muka dari Leon, Ada, dan lain-lain tampak lebih hidup sementara gerakan mereka pun lebih fluid (baca: tidak kaku). Sama-sama disutradarai oleh Makoto Kamiya, Resident Evil: Damnation memiliki aksi yang lebih seru dibandingkan prekuelnya.
Makoto Kamiya cukup pintar memakai berbagai macam sinematografi seperti first person mode di koridor-koridor yang gelap untuk membuat suasana tegang dan melempar darah di sana-sini untuk efek gore-nya. Oh ya Kamiya juga memakai teknik slow motion tetapi untungnya tak pernah berlebihan sehingga porsinya pas. Secara overall kualitas animasi maupun aksi di film ini jauh melebihi prekuelnya.
Kejutan lainya yang biasanya kisah zombie tidak pernah jauh-jauh dari sebuah breakout insidentil yang memaksa sekelompok orang berkumpul bersama dan bertahan hidup. Tidak begitu dengan film ini; Resident Evil: Damnation dengan berani menggabungkan ide perang sipil (politik) dengan survival horror sehingga hasilnya adalah sebuah kombinasi yang fresh dan baru.
Film ini tak pernah menggambarkan satu tokoh (selain mungkin Leon) dalam kisah ini sebagai malaikat yang tulus. Bahkan Buddy yang bisa dianggap sebagai hero sekunder dalam kisah ini tak luput dari cacat cela. Mungkin seperti politik dan kehidupan itu sendiri: tak ada yang benar-benar putih dan hitam. Tak selalu kedua elemen ini berpadu dengan baik dan ada kalanya film ini kadang hampir lupa diri sebagai film zombie untuk mengumbar kritik pada sistem sosialisme. Untung saja Makoto Kamiya selalu mengambil kendali sebelum kelewatan sehingga mampu menggiring film ke setpiece aksi ketimbang berdialog filosofis menceramahi penonton.
Source: DVDRip
Released: 20 January 2014 (USA)
Country: Indonesia | Japan
Language: Spanish | Japanese | English
Genre: Action | Drama | Crime | Thriller
Director: Kimo Stamboel, Timo Tjahjanto
Writers: Takuji Ushiyama (original story), Takuji Ushiyama
Starcast: Oka Antara, Rin Takanashi, Kazuki Kitamura, Ray Sahetapy, Luna Maya
Review
Dalam Killers, sebuah film thriller terbaru arahan duo Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel – atau yang lebih familiar dengan sebutan The Mo Brothers (Rumah Dara, 2010), garis kehidupan dua orang pria yang berasal dari dua negara dan latar kehidupan berbeda namun sama-sama menyimpan sebuah sisi gelap yang mengerikan di dalam diri mereka akan segera bertemu satu sama lain. Pria pertama bernama Nomura Shuhei (Kazuki Kitamura), seorang eksekutif muda asal Tokyo, Jepang yang meskipun memiliki wajah tampan dan mudah disukai banyak orang namun memiliki kegemaran untuk membunuh dan mendokumentasikan kegemarannya tersebut dalam bentuk video.
Tidak berhenti disana, Nomura dengan giat mengunggah rekaman-rekaman video pembunuhannya ke internet demi mendapatkan kepuasan setelah mengetahui bahwa “mahakarya” yang ia hasilkan telah dilihat jutaan pasang mata. Sementara itu, di Jakarta, Indonesia, Bayu Aditya (Oka Antara) adalah seorang jurnalis yang sedang berada dalam titik terendah dalam kehidupannya. Karirnya berantakan setelah kegagalannya untuk mengungkap kasus korupsi yang dilakukan oleh seorang politikus, Dharma (Ray Sahetapy). Kehidupan personalnya bahkan tidak lebih baik. Pernikahannya dengan Dina (Luna Maya) berada di ambang perceraian yang membuat dirinya seringkali kesulitan untuk menemui puterinya yang begitu ia sayangi.
Di tengah-tengah berbagai himpitan hidup tersebut, Bayu menemukan video-video yang diunggah Nomura ke internet dan secara perlahan mulai terinspirasi untuk melakukan hal yang sama: untuk menjadi seorang pembunuh berantai berdarah dingin. Berkat dorongan hasrat sisi gelapnya tersebut, Bayu kemudian berusaha untuk menghubungi Nomura. Dan ketika Nomura memberikan tanggapan pada Bayu, kehidupan keduanya secara perlahan mulai berubah dan terhubung satu sama lain.
Disengaja atau tidak, Killers terasa mendapatkan pengaruh yang cukup kuat dari dari film-film thriller asal Korea Selatan seperti I Saw the Devil (2010) atau Bedevilled (2010) – sebuah presentasi psychological thriller yang kelam, gloomy dan benar-benar meminta perhatian penuh dari penontonnya untuk mampu menyelami karakter-karakter yang hadir di dalam jalan cerita. Keberadaan adegan-adegan sadis nan berdarah bukanlah menjadi santapan utama dalam film ini. Benar bahwa adegan-adegan tersebut merupakan bagian esensial dalam jalan cerita Killers namun The Mo Brothers terlihat lebih mengeksplorasi berbagai konflik yang terjadi pada dua karakter utama dan bagaimana konflik-konflik tersebut mempengaruhi kehidupan mereka berdua.
Dalam beberapa bagian – khususnya bagian penceritaan yang melibatkan karakter Nomura Shuhei, formula tersebut berhasil dieksekusi dengan baik. Sayangnya, di bagian lain yang presentasi ceritanya justru lebih besar, The Mo Brothers terasa masih begitu terbata-bata dalam menghadirkan ceritanya. Permasalahan muncul pada bagian kisah yang melibatkan karakter Bayu Aditya ketika Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel berupaya menghadirkan susunan cerita yang lebih kompleks dengan kehadiran konflik dan karakter yang lebih berlapis jika dibandingkan dengan kisah penceritaan karakter Nomura Shuhei namun gagal memberikan penggalian yang kuat pada elemen-elemen penceritaan tersebut.
Banyak bagian dari kisah penceritaan karakter Bayu Aditya terasa hanya menyentuh permukaan dari permasalahan yang dihadirkan, mulai dari konflik yang dihadapi sang karakter dalam urusan pekerjaannya, hubungan romansanya hingga pengembangan karakternya ketika sisi kelam dirinya mulai terasa mengambil alih seluruh kehidupannya. Hal inilah yang menyebabkan plot kisah yang menyajikan lebih banyak sisi drama ini gagal untuk benar-benar menghasilkan ikatan emosional yang sebenarnya cukup dibutuhkan agar penonton dapat merasakan perbedaan dari perubahan karakter Bayu Aditya dengan karakter Nomura Shuhei. Ritme penceritaan yang diberikan The Mo Brothers sendiri cukup mampu memberikan atmosfer yang sesuai pada Killers.
Melalui penataan cerita yang sederhana, The Mo Brothers memberikan ruang yang cukup luas pada konflik dan karakter yang hadir di dalam jalan cerita film ini untuk memberikan kesan mencekam yang lebih dalam. Tidak sepenuhnya berjalan lancar. Beberapa bagian Killers, khususnya di bagian pertengahan, terasa begitu lamban akibat kurang esensialnya cerita yang ingin disampaikan. Killers juga terasa antiklimaks dengan pemberian ending yang jauh dari kesan memuaskan – film ini, sejujurnya, akan terasa lebih kuat jika berakhir 20 menit lebih awal ketika karakter Nomura Shuhei selesai mengerjakan “tugas akhirnya”. Lebih dari itu, ending yang disajikan The Mo Brothers terkesan dipaksakan untuk memberikan ending yang berdarah namun gagal untuk dieksekusi dengan rapi.
Pengarahan dari The Mo Brothers sendiri terasa begitu kuat pada departemen akting dan tata produksi film ini. Meskipun beberapa karakter terkesan kurang tergali dengan baik porsi penceritaannya – seperti karakter-karakter yang diperankan oleh Luna Maya, Ray Sahetapy, Epy Kusnandar, Dimas Argoebie atau Tara Basro, namun para jajaran pemeran film ini mampu hadir dengan penampilan akting yang sangat kuat. Kazuki Kitamura tampil dengan sempurna dalam memerankan karakter Nomura Shuhei – sadis, dingin namun hadir dengan kharisma yang begitu kuat. Lawan mainnya, Oka Antara, juga hadir dengan penampilan akting yang berkelas. Berbeda dengan Kazuki Kitamura yang hadir sebagai seorang sosok yang murni bersifat sadis, karakter yang diperankan oleh Oka Antara memang memiliki lapisan penceritaan yang cukup mendalam – karakternya adalah seorang pecundang yang berusaha untuk mengambil alih pimpinan kehidupannya sendiri.
Meskipun tampil goyah pada beberapa bagian penceritaan – dan akan mendapatkan perbandingan secara langsung terhadap penampilan Kazuki Kitamura, penampilan Oka Antara sebagai Bayu Aditya tetap hadir sebagai sebuah penampilan yang cukup cemerlang. Killers juga menampilkan penampilan apik dari aktris Jepang, Rin Takanashi, yang mampu mendampingi sekaligus menjadi padanan yang pas bagi penampilan dari Kazuki Kitamura.
Sama halnya seperti Rumah Dara, The Mo Brothers mampu menghadirkan kualitas produksi yang begitu berjelas bagi Killers. Tata kamera arahan Gunnar Nimpuno bergerak begitu dinamis sehingga mampu menangkap sudut-sudut gambar yang terasa begitu efektif dalam bercerita. Begitu juga dengan departemen artistik yang secara meyakinkan menghadirkan dukungan atmosfer suasana yang tepat bagi penceritaan Killers. Dukungan tata musik dan suara dari Fajar Yuskemal dan Aria Prayogi semakin menambah kuat kualitas departemen produksi dari film ini. Kualitas produksi yang benar-benar sangat memuaskan. Sayangnya, Killers terasa seperti kembali mengulangi beberapa kesalahan yang dilakukan The Mo Brothers lewat debut penyutradaraan layar lebar mereka, Rumah Dara, beberapa tahun lalu. Memiliki konsep penceritaan yang sebenarnya sangat menyenangkan, keduanya lantas harus tersandung ketika menterjemahkan konsep tersebut dalam eksekusi akhirnya, khususnya ketika berhubungan dengan pengembangan konflik sekaligus karakter yang berlapis.
Hasilnya jelas dapat dirasakan dari dua penceritaan yang disajikan dalam Killers: penceritaan karakter Nomura Shuhei yang minimalis mampu dieksekusi dengan lancar sedangkan bagian penceritaan dari karakter Bayu Aditya yang cenderung lebih kompleks terkesan hadir cukup berantakan pada kebanyakan bagiannya. Keputusan untuk mempertemukan dua karakter sentral tersebut juga gagal menghasilkan sebuah ending yang maksimal ketika The Mo Brothers kurang mampu memberikan sisi penceritaan yang lebih mendalam. Bukan berarti Killers adalah sebuah presentasi yang buruk – departemen produksi dan penampilan akting yang dihadirkan para pemeran film ini jelas hadir dalam kualitas yang kuat. Namun secara keseluruhan, Killers terasa cukup mengecewakan akibat lemahnya eksekusi cerita di banyak bagiannya.
Source: BRRip
Released: 23 April 2004 (USA)
Country: USA | UK
Language: English | Spanish
Genre: Action | Drama | Crime | Thriller
Director: Tony Scott
Writers: A.J. Quinnell (novel), Brian Helgeland (screenplay)
Starcast: Denzel Washington, Christopher Walken, Dakota Fanning
Review
Konon di Amerika Latin setiap satu jam terjadi aksi penculikan, termasuk di Mexico. Penculiknya tidak segan-segan untuk menyiksa korban apabila tuntutan tebusan tidak ditanggapi serius oleh keluarga korban. Tapi yang lebih parahnya walaupun sudah dibayar tebusannya, kecil kemungkinan korban kembali dalam keadaan selamat. Permasalahan inilah yang diangkat oleh Tony Scott dalam film ini.
Akibat maraknya aksi penculikan tersebut, banyak orang yang akhirnya menyewa jasa pengawalan swasta alias Bodyguard. Samuel Ramos dan Lisa, istrinya, atas saran Paul Rayburn mempekerjakan seorang pensiunan militer dan CIA, John Creasy. Creasy akan bertugas menjaga putri semata wayang Ramos dan Lisa, Pita. Creasy sendiri punya masalah yang tidak dijelaskan dalam film ini, ia mengalami ketergantungan alkohol. Walaupun begitu ia tetap berusaha fokus terhadap tugasnya.
Awal perkenalannya dengan Pita tidak berlangsung dengan baik. Padahal Pita ingin bersahabat dengan Creasy. Tapi hari demi hari hubungan Pita dan Creasy semakin membaik. Pita bahkan menamai boneka beruang kesayangannya dengan panggilan Creasy Bear dan menulis di buku hariannya bahwa ia sangat menyayangi Creasy. Sebaliknya Creasy pun semakin merasa nyaman berada dekat dengan Pita. Ia mengajari Pita berenang dan juga sering berdiskusi degan Pita tentang pelajaran-pelajaran Pita.
Tetapi momen kebahagiaan tersebut dirusak oleh sebuah kejadian menyakitkan. Tepat ketika Pita selesai les Piano, sekelompok orang hendak menculik Pita, Creasy pun dengan sigap mencegah penculikan tersebut. Ia terlibat baku tembak degan beberapa orang penculik. Sayangnya ia pun tertembak. Pita yang sebenarnya sudah berlari tapi karena melihat Creasy jatuh tertembak akhirnya kembali menghampiri Creasy. Pita pun diculik dihadapan Creasy yang tidak berdaya. Apakah Creasy tewas dan apakah pita berhasil diselamatkan??
Film ini menyajikan tema penculikan yang diakhiri dengan balas dendam yg manis. Sosok hero yang ditampilkan pun sangat manusiawi, John Creasy yang memiliki ketergantungan alkohol dan tidak anti peluru. Dipadu dengan jalinan hubungan yang unik dengan kliennya, Pita. Chemistry antara Denzel Washington dan Dakota Fanning begitu menyatu. Skenarionya pun digarap dengan baik. Semua elemen dibuat sebaik mungkin sehingga sangat sedikit celah yang dapat membuat film ini kedodoran intensitasnya.
Setiap peran diberikan porsi yang cukup. Cara revenge Creasy pun dibuat dengan penuh totalitas. Tepat seperti apa yg dikatakan oleh Rayburn, temannya si Creasey, "Creasey's art is death. He's about to paint his masterpiece." Dan benar saja, Creasey pun dalam film ini menunjukkan dengan begitu lugasnya cara efektif untnk membuat seseorang mengakui perbuatannya. Walaupun genre film ini adalah action tapi ada beberapa scene yang bisa memancing emosi penonton menjadi haru biru. Pada akhirnya Man On Fire menjadi sebuah film action yang memiliki jalinan cerita dan penokohan yang kuat yang semuanya digarap dengan totalitas tinggi.
Source: BRRip
Released: 2014 (USA)
Country: Canada | Australia
Language: English
Genre: Action | Comedy | Crime
Director: Brian Trenchard-Smith
Writers: Chad Law, Evan Law
Starcast: John Cusack, Thomas Jane, Zoe Ventoura
Sinopsis
A former race car driver turned driver's training instructor (Jane) is abducted by a mysterious thief (Cusack) and forced to be the wheel-man for a crime that puts both in the sights of the cops and the mob and leads them all on a chase across Australia's Gold Coast.
Source: DVDRip
Released: 4 April 2014 (India)
Country: India
Language: Hindi
Genre: Action | Comedy | Romance
Director: David Dhawan
Writers: Tushar Hiranandani (story), Milap Zaveri (dialogue)
Starcast: Salman Khan, Anupam Kher, Ileana
Sinopsis
Seorang jagoan yang ganteng, pintar, dan pemberani Sreenath Prasad alias Seenu (Varun Dhawan) jatuh cinta kepada Sunaina (Ileana D’Cruz). Seenu sangat terkenal di kotanya. Lantas hadirlah seorang polisi korup, Angad (Arunoday Singh) yang memaksa ingin menikahi Sunaina. Kemudian hadir juga Ayesha (Nargis Fakhri) gadis cantik yang tergila-gila dengan Sreenath. Ayah Ayesha adalah seorang penjahat. Dia menculik Sunaina agar Sreenath mau menikahi putrinya. Sreenath berupaya membebaskan Sunaina sekaligus berusaha melepaskan diri dari cinta segitiga ini.
Film Main Tera Hero ini bergenre aksi komedi. Film berdurasi 128 menit itu disutradarai oleh David Dhwan. Film ini sendiri merupakan remake (membuat ulang sebuah film) Kandireega (2011) yang menjadi box office di India dengan pendapatan US$ 9,2 juta (Rp105 miliar). Sebenarnya, Kandireega sendiri sudah pernah dibuat remake-nya menjadi Paglu 2 (2012).
Source: BRRip
Released: 25 December 2013 (USA)
Country: USA
Language: English | Japanese
Genre: Action | Adventure | Fantasy
Director: Carl Rinsch
Writers: Chris Morgan (screenplay), Hossein Amini (screenplay)
Starcast: Keanu Reeves, Hiroyuki Sanada, Ko Shibasaki
Review
Film ini sesungguhnya telah dijadwalkan akan dirilis pada akhir november tahun lalu. Ya, bukan november tahun ini melainkan tahun lalu, didorong sedikit kebelakang menuju awal bulan februari 2013 dengan alasan terkait efek visual, namun kemudian kembali ditunda hingga akhir bulan desember dengan alasan reshoots. Kemungkinannya cuma dua, upaya untuk menjadikannya tampak semakin megah, atau upaya menyelamatkan ia dari jurang kehancuran. 47 Ronin, cukup rapi, stabil, namun monoton dan kurang bernyawa.
Karena statusnya sebagai pria berdarah campuran antara British dan Jepang, Kai (Keanu Reeves) harus rela dipandang sebelah mata oleh para samurai di kerajaan tempat ia bermukim, Ako. Ia dianggap seperti sebuah masalah, namun celakanya sebuah tindakan licik dari seorang wanita bernama Mizuki (Rinko Kikuchi) kemudian membawa Kai kedalam sebuah masalah yang jauh lebih besar, menyebabkan pemimpin mereka Lord Asano (Min Tanaka) memutuskan untuk menebus kesalahan dengan memilih melakukan seppuku, dan Ako berada dibawah kendali Lord Kira (Tadanobu Asano).
Namun walaupun kini hanya menyandang status ronin, serta dihalangi sebuah perintah dari pemimpin tertinggi, Kuranosuke Oishi (Hiroyuki Sanada) tetap berniat untuk membalaskan dendamnya kepada Lord Kira sebagai upaya untuk mengembalikan kehormatan mantan pemimpinnya. Ia kemudian mengajak Kai untuk bergabung, bukan hanya karena Oishi tahu kemampuan yang dimiliki Kai, namun ikut melibatkan nasib seorang wanita bernama Mika (Kou Shibasaki) yang akan dinikahi paksa oleh Kira, wanita pujaan hati Kai.
Jika dijabarkan dalam sebuah kalimat sederhana, 47 Ronin adalah film yang sejak awal sudah tampak sangat cemas. Sumbernya adalah dana melimpah yang ia miliki, kemudian memberikan dampak domino pada cerita yang ditulis oleh Walter Hamada, Chris Morgan, dan Hossein Amini, hingga merembes pada kinerja Carl Erik Rinsch dibangku sutradara. Ya, mereka tampak terbebani tentu saja oleh tuntutan agar film ini dapat menjadi sebuah kemasan yang mewah dan megah, tapi celakanya hal tersebut pula yang ternyata kemudian menyebabkan Rinsch dan rekan-rekannya justru memilih bermain aman, bahkan cenderung setengah hati di tiap elemen film.
Ini tidak total. Dari segi cerita memang terasa rapi, kita seperti dibawa kedalam sebuah urutan petualangan yang terangkai dengan baik, berhasil menghidupkan kembali salah satu legenda masyarakat Jepang ini. Namun jika mencoba menilik sedikit lebih kedalam anda dapat dengan mudah menemukan sebuah rasa bingung yang dimiliki oleh 47 Ronin. Film ini tidak berani, beban diawal tadi seperti menghalangi ia untuk bergerak lebih jauh dan lebih bebas, unsur sejarah ia kemas secara umum tanpa pendalaman yang berarti, kemudian melakukan kombinasi bersama sentuhan Hollywood.
Benar, tema kehormatan dan pengorbanan itu memang berhasil tersampaikan, namun dengan cara yang sangat biasa, standard dibanyak bagian, cerita terbangun dengan cara yang biasa, begitupula dengan karakter, hingga berakhir pada permainan CGI. Ini terlalu sederhana untuk sebuah legenda potensial yang kompleks, dan pada akhirnya penonton hanya akan berpegang pada warna balas dendam ketimbang hal-hal rumit yang tersimpan dibalik itu.
Screenwriter seperti sangat terbebani agar dapat menyusun sebuah kisah yang di satu sisi tampil serius namun juga harus menciptakan ruang bagi “hiburan” yang menyenangkan, memang rapi, namun ini monoton dan kaku. Sumber utama yang menyebabkan ia tampil monoton dan kaku adalah keputusan yang diambil oleh Carl Erik Rinsch sejak awal, 47 Ronin sudah ditekan sejak ia dimulai, diatur sedemikian rupa agar dapat tampil seimbang di semua elemen. Berhasil, namun gerak mondar-mandir yang ia hadirkan itu berada di level medium, jauh dari mengesankan.
Kurang bernyawa, sulit untuk menaruh simpati pada cerita dan karakter yang sejak awal tidak diberikan karakterisasi dan kedalaman yang mumpuni, padahal petualangan ini didominasi permainan dialog dalam gerak yang sabar dan stabil. Penggunaan english juga memberi dampak berarti, sulit untuk melakukan sinkronisasi pada karakter fiktif tersebut dengan kisah nyata, menghadirkan sebuah rintangan untuk dapat terjerat lebih dalam.
Yang unik dari 47 Ronin adalah ia menghadirkan sebuah proses panjang untuk mencapai finale di dua bagian, sisi emosional dari pesan dan karakter, dan juga sisi tampilan visual. Visual berhasil, set yang mengesankan, kostum yang memikat, efek visual yang cukup oke, ada nafas kuno dalam sentuhan modern yang ia tampilkan. Namun dari segi emosional: kurang memuaskan, kurang mencekam, daya tarik yang kurang kokoh dengan mudah tergerus ketika hiburan visual mulai hadir menemani. Itu juga sering menjadikan Keanu Reeves terasa kurang berharga, terlebih dengan kemampuan pemeran Jepang seperti Hiroyuki Sanada, Tadanobu Asano, dan Rinko Kikuchi memanfaatkan kesempatan yang mereka miliki dengan baik.
Overall, 47 Ronin adalah film yang cukup memuaskan. Ini menarik jika menilik struktur cerita yang ia tampilkan, walaupun beberapa materi terasa kurang pas ia masih mampu untuk tampil cukup rapi, bahkan berhasil menggambarkan kembali secara garis besar informasi terkait perjuangan dan keberanian dari para Ronin. Yang menjadi masalah adalah ia tidak punya dinamika cerita yang bernyawa, yang hidup, yang menyenangkan, ini terlalu stabil di level yang sayangnya juga tidak tinggi, terasa kaku dan kerap kali monoton.
Source: BRRip
Released: 30 January 2014 (Kuwait)
Country: USA
Language: English
Genre: Action | Thriller
Directors: Todd Burrows, Christopher Folino
Writer: Christopher Folino
Starcast: Chase Williamson, Ashley Bell, Clancy Brown
Review
Film Sparks ini bercerita tentang seorang bertopeng yang awalnya hanya mausia biasa, namun karena mendapat motifasi akhirnya dirinya menjadi seoranng pahlawan super. Ia tidak sendiri, ia ditemani oleh pahlawan super bertopeng wanita juga.
Ceritan Sparks bermula setelah meteor radioaktif menyerang Bumi, sebuah kelompok yang diubah secara genetik dikenal sebagai The Rochester 13. Ian Sparks awalnya tidak merasa jika dirinya adalah pahlwan tapi setelah kematian orang tuanya, dia memutuskan agar dirinya ke pertempuran melawan penjahat yang mengganggu jalan-jalan kota New York.
Sparks Bekerja sama dengan Lady Surgawi seorang pahlawan wanita super juga, duo tak terbendung ini sangat tangguh membasmi para penjahat di kota. Tapi ketika mereka kalah dengan para penjahat The Roachster mereka akhirnya kehilangan segalanya termasuk satu sama lain. Akibatnya Sparks sangat marah dan kekuatannya pun bertambah hebat.
Source: CAM
Released: 16 May 2014 (USA)
Country: USA | Japan
Language: English | Japanese
Genre: Action | Adventure | Sci Fi
Director: Gareth Edwards
Writers: Max Borenstein (screenplay), Dave Callaham (story)
Starcast: Aaron Taylor-Johnson, Elizabeth Olsen, Bryan Cranston
Review
Bagi sebagian masyarakat, mungkin tidak terlalu familiar dengan nama “Godzilla”. Lain hal dengan mereka yang menyukai monster raksasa dari Jepang yang satu ini, di mana film pertamanya debut pada tahun 1950an silam dan membawa kesuksesan tersendiri untuk serial film kaiju (dalam bahasa Jepang, monster raksasa).
Sebelumnya, mungkin beberapa dari Anda sempat mengetahui Godzilla dari film versi Amerika yang berjudul sama yang debut pada tahun 1998 lalu. Film Godzilla versi Amerika tersebut, sayangnya, mendapatkan banyak kritik dari fans Godzilla atas perubahan yang terjadi baik pada segi cerita maupun Godzilla sendiri. Kini, dengan mengambil tema dan style langsung dari Godzilla orisinil milik Jepang, hadir kembali sebagai versi reboot dari film tahun 1998 itu. Seperti apakah hasil reboot yang diantisipasi oleh para fans Godzilla tersebut?
Kisah dimulai dengan kunjungan peneliti Ishiro Serizawa (Ken Watanabe) dengan Vivienne Graham (Sally Hawkins) menuju Filipina, tempat di mana terjadi longsor yang sangat dalam secara tiba-tiba di area penambangan. Ketika ditelusuri, mereka menemukan bahwa terdapat dua “kepompong” raksasa yang bersemayam di dalam longsoran tersebut beserta sebuah kerangka raksasa yang telah lama mati di sana. Tidak lama setelah penemuan tersebut, di area nuklir Janjira, Jepang, terjadi aktivitas gempa yang tidak wajar. Aktivitas tersebut menyebabkan longsor di sekitar area tersebut dan menyebabkan Janjira menjadi wilayah terisolasi karena bahaya radiasi nuklir.
Lima belas tahun kemudian, Ford Brody yang merupakan salah satu penghuni Janjira yang berhasil evakuasi dan selamat dari bahaya tersebut, telah hidup dan berkeluarga dengan tenang. Sementara ayahnya, Joe Brody, yang merupakan supervisor dari area nuklir Janjira tersebut, masih mencari penyebab sesungguhnya dari aktivitas gempa yang tidak wajar tersebut hingga kini. Ia meyakinkan anaknya bahwa kejadian lima belas tahun silam tersebut bukan dikarenakan oleh gempa semata, tetapi oleh sesuatu yang lain yang lebih besar dan berbahaya dari sekedar gempa biasa.
Dan pernyataan Joe pun tepat, karena bencana tersebut dikarenakan bangkitnya monster yang dinamakan “MUTO” dari kepompong yang ditemukan oleh Serizawa di Filipina. Dan MUTO ini mulai beraktivitas kembali setelah lima belas tahun lamanya, sekaligus mulai mengancam keberadaan makhuk hidup di Bumi. Hampir mustahil untuk bisa melawan MUTO ini, akan tetapi Serizawa yakin hanya ada satu makhluk yang mampu melawannya.
Hampir semua yang diharapkan setelah melihat berbagai teaser dan trailer ada di dalam film ini. Godzilla versi reboot ini memiliki beberapa elemen yang mengambil dari elemen Godzilla versi Jepang yang lama, termasuk di antaranya desain monster dan suara raungan khasnya. Melihat seberapa besar bentuk monster raksasa ini, maka dapat ditebak pula bahwa kehancuran yang dibuatnya juga tidak akan kalah masifnya. Di dalam film, penonton bisa melihat dengan mata kepala sendiri seperti apa kengerian dan teror yang dapat dilakukan oleh para monster raksasa ini terhadap sebuah kota yang mereka “kunjungi”.
Perkembangan cerita dari film Godzilla mungkin akan terasa cukup dangkal karena alur yang cenderung pelan dan naik turun. Para penonton yang mengharapkan banyak adegan pertarungan Godzilla melawan MUTO tersebut mungkin harus sedikit menurunkan ekspektasi tersebut karena porsi yang diberikan sepanjang film berlangsung tidaklah sebanyak yang diduga. Walau begitu, alur cerita dan perkembangan karakter manusia cukup kuat untuk bisa mendukung sisi emosional dari film ini, terutama perkembangan yang terjadi pada para tokoh yang menjadi sorotan utama di dalamnya.
Dengan menonton film Godzilla versi reboot ini, penonton pun disajikan sebuah film monster ala Jepang yang, untuk sebagian penikmatnya, mampu memberikan kesan klasik dan penyegar dari film-film Godzilla sebelumnya. Jika Anda adalah penikmat film monster, tentu saja film Godzilla (2014) ini tidak boleh Anda lewatkan begitu saja.
Source: BRRip
Released: 23 February 2010 (USA)
Country: USA
Language: English
Genre: Animation | Action | Adventure
Directors: Sam Liu, Lauren Montgomery
Writers: Dwayne McDuffie, Jerry Siegel (creator)
Starcast: William Baldwin, Mark Harmon, Chris Noth
Review
Kisah diawali usaha pelarian Alexander ‘Lex’ Luthor dan Jester dari kejaran anggota Crime Syndicate, Lex Luthor akhirnya berhasil melarikan diri menuju bumi tempat dimana para Justice League berada. Namun Lex Luthor yang ini BUKAN Lex Luthor biasa, ia jagoan di dunianya, dunia paralel dimana para Justice League dikenal sebagai Crime Syndicate, kelompok penjahat super yang tangguh dan kejam. Walau berat hati akhirnya para anggota Justice League menyetujui ajakan Lex Luthor untuk kembali ke dunianya untuk bersama-sama melawan aksi jahat Crime Syndicate.
Namun tanpa sepengetahuan mereka, Owlman salah satu anggota Crime Syndicate mempunyai rencana jahat tersendiri, rencana yang jika tercapai akan menpengaruhi kestabilan dunia paralel di DC Universe.
Disarikan dari salah satu kisah komik paling terkenal yaitu JLA:Earth 2, ya disarikan karena film ini tidak full mengangkat isi cerita komik tersebut, seperti biasa ada beberapa perubahan di film animasinya. Dan ini film animasi DC Universe PALING lengkap!. Aksi, cerita, dan animasi yang pas dan bagus membuat film ini jadi salah satu film amimasi DC terbaik. Belum pernah rasanya melihat film animasi DC yang gaya bertarung para superheronya begitu terkoreografi dengan bagus, jurus-demi-jurus mengalir bagai pendekar beladiri tidak seperti superhero kebanyakan yang asal gebak-gebuk.
Johnny Quick, Ultraman, Superwoman, Owlman Aksi pertarungannya pun banyak dan cukup panjang, sehingga cukup menghibur apalagi ditambah dengan kehadiran banyaknya tokoh-tokoh baik itu super-villian (yang semuanya merupakan kebalikan dari para superhero) dan superhero lini dua JLA yang ikut membantu pertarungan melawan Crime Syndicate.
Untuk ceritanya pun cukup padat dan mudah dimengerti, yang menarik ada beberapa elemen JLA yang kembali diceritakan lagi, seperti masa lalu Martian Manhunter dan awal bergabungnya JLA. Overall ini adalah salah satu masterpiece DC Animation dan membuktikan mereka sebagai produsen film animasi komik yang paling hebat…. Sayang… untuk film live-action DC Comics masih jauh ketinggalan dari lawan-lawannya.
Source: BRRip
Released: 27 June 2013 (USA)
Country: South Korea | USA | France | Czech Republic
Language: English | Korean | Japanese | French
Genre: Action | Drama | Sci Fi
Director: Joon-ho Bong
Writers: Joon-ho Bong (screenplay), Kelly Masterson (screenplay)
Starcast: Chase Williamson, Ashley Bell, Clancy Brown, Ed Harris, Kang-ho Song, Ah-sung Ko
Review Orang kaya bertindak sebagai penguasa, sedangkan kaum miskin berperan sebagai penderita. Kejam? Sebenarnya tidak, faktanya simbiosis tersebut kini tidak lagi menjadi sesuatu yang aneh, perlahan tampak seperti sebuah trend bahkan kewajiban yang berlaku pada banyak ekosistem masyarakat, karena kini melakukan tindakan humanisme sudah jauh dari kesan membanggakan.
Hal tersebut akan anda temukan pada karya terbaru dari Bong Joon-Ho, salah satu sutradara terbaik yang dimiliki Korea Selatan. Snowpiercer, sebuah kritik implisit menggunakan bencana apokaliptik yang menakjubkan.
Tahun 2014, dikala suhu global semakin menjadi isu yang mencemaskan, negara dunia sepakat untuk bersama melakukan upaya menurunkan suhu dengan membangun satu sistem pada atmosfer. Sayangnya keberhasilan tersebut hanya sesaat, karena perlahan suhu bumi yang tadinya panas berbalik secara frontal.
Ya, zaman es itu kembali, penduduk bumi tewas akibat suhu yang dalam kurun waktu tujuh menit dapat merubah tangan manusia menjadi bongkahan es. Namun tidak semua, masih ada sekelompok manusia beruntung dalam sebuah kereta api super cepat milik jutawan kaya bernama Wilford (Ed Harris), Snowpiercer, yang secara periodik terus berputar mengelilingi bumi.
Snowpiercer ibarat sebuah ekosistem baru, dimana yang kaya berada di posisi depan penuh dengan kebahagiaan, sedangkan si miskin berada di bagian ekor, setiap hari hanya makan sepotong jelly yang menjadikan mereka lupa bagaimana rasa dari sepotong daging.
Tepat 17 tahun kemudian, Curtis (Chris Evans) dan Edgar (Jamie Bell) mulai bosan dengan pidato utusan bernama Mason (Tilda Swinton), dan ingin merubah sistem tersebut. Walaupun awalnya ditentang oleh Gilliam (John Hurt), sebuah masalah yang menimpa Tanya (Octavia Spencer) kembali menghidupkan misi mereka, terlebih dengan adanya secercah harapan pada sosok yang diyakini dapat menolong, Namgoong Minsu (Song Kang-Ho).
Ada tiga hal utama yang sebenarnya sudah membuat Snowpiercer tampak sangat menarik bahkan sebelum ia mulai hadir di layar. Pertama adalah Bong Joon-Ho, anda bisa tanya google siapa pria ini, Barking Dogs Never Bite, Memories of Murder, The Host, Mother, tidak cukup satu paragraf untuk menggambarkan sutradara asal Korea ini yang gemar berpindah genre film.
Kedua adalah jajaran cast, bahkan belum memasukkan Alison Pill dan Go Ah-Sung yang juga tampil memikat. Dan yang terakhir adalah konsep cerita layaknya kapal Nuh yang di adaptasi dari novel grafik berjudul Le Transperceneige karya Jacques Lob, Benjamin Legrand dan Jean-Marc Rochette, yang kemudian merubah Snowpiercer menjadi sebuah film yang segmented.
Ya, Snowpiercer adalah film yang segmented, tingkat tinggi malah. Pada awalnya ini memang tampak seperti sebuah film fantasy yang akan memanjakan penontonnya dengan sentuhan action mewah untuk membangun cerita yang sesungguhnya sangat sederhana, bagaimana cara bergerak dari belakang kereta api menuju bagian depan.
Namun ternyata Snowpiercer punya cakupan yang jauh lebih “luas”, dimana narasi padat yang Bong Joon-Ho bentuk bersama dengan Kelly Masterson ini ingin bermain dengan cara yang lebih cerdas dalam menyampaikan misi utama mereka. Ini bukan film dimana anda akan dituntun untuk menemukan sebuah jawaban di akhir dan kemudian berteriak penuh kegembiraan, ini adalah film yang sepanjang ia berjalan terus berupaya memprovokasi anda, pada isu kemanusiaan.
Segi teknis memang memikat, namun itu semua di gunakan oleh Bong Joon-Ho hanya sebagai elemen pemanis. Cinematography gemilang dengan tingkat kepadatan yang berimbang, dibantu dengan score yang terus membantu proses membangun cerita, editing yang memikat, mereka di eksekusi dengan baik walaupun sebenarnya punya nilai minus pada CGI yang tidak begitu memukau, terutama kondisi di luar kereta api.
Kekuatan utama Snowpiercer terletak pada cara ia bercerita. Memang tidak ada perkembangan cerita yang begitu luas, namun ia berhasil membawa penontonnya masuk kedalam proses observasi dan analisa pada tema utama yang sukses menghadirkan konsistensi pada momentum, tekanan, dan dinamika cerita, serta mampu terus menarik atensi penonton.
Ya, Snowpiercer tampil menarik lewat cara yang pintar, keren, dan elegan. Sebuah kenikmatan yang menyenangkan ketika secara bertahap bersama karakter ikut berpindah antar gerbong, seperti ditarik kedalam petualangan sederhana yang mendebarkan, namun tetap diberikan banyak materi-materi segar yang variatif, dari pemandangan luar kereta api, masih dengan pergerakan plot dan warna cerita yang mengejutkan, serta black humor, hingga eksekusi pada hal sederhana seperti rokok, estafet, sauna, sushi, dan sekolah.
Begitu pula dengan kemudahan yang ia ciptakan agar penonton ikut menaruh simpati pada karakter, terlibat dalam permainan emosional walaupun tidak digali terlalu dalam. Mereka semua yang kemudian menjadikan beberapa nilai minus skala kecil, seperti pergerakan mondar-mandir yang di beberapa titik terkesan sedikit terlalu cepat dan terlalu lambat, terasa tidak begitu mengganggu.
Kunci utama dari menikmati Snowpiercer adalah mampu atau tidak penontonnya untuk terus mengikuti irama dari tempo yang ia berikan, naik dan turun, cepat dan lambat, dibeberapa bagian bahkan off-beat. Jika jawabannya ya, maka bersiaplah untuk mendapatkan sebuah petualangan berisikan perjuangan yang memang tidak akan menyediakan grand prize di akhir cerita, namun berhasil membuat tema kebebasan dan humanisme yang ia usung melekat lama di ingatan penontonnya. Ya, ini seperti sebuah alarm dini bahkan juga sindiran frontal yang implisit pada cara berjalan dunia masa kini yang dapat dengan mudah dikategorikan sebagai sesuatu yang salah.
Jika harus menilai secara individu tidak ada satupun karakter yang berdiri seorang diri dalam menggerakkan cerita, termasuk itu Chris Evans yang sebenarnya berperan sebagai tokoh central. Bong Joon-Ho sepeti punya misi lain untuk menyampaikan betapa pentingnya kerjasama dan saling membantu, ia memang kerap mendorong Evans sebagai penguasa panggung utama, namun tetap menjaga kontribusi dari Jamie Bell, Octavia Spencer, Tilda Swinton, Song Kang-Ho, dan Go Ah-Sung agar tidak tenggelam dan hilang, dan ikut berperan aktif dalam menggerakkan konflik dan isu yang dilemparkan.
Overall, Snowpiercer adalah film yang memuaskan. Konsep yang kokoh, eksekusi teknis dan cerita yang padat dan penuh percaya diri, ia mampu mengejutkan menggunakan kekerasan, berhasil menyentuh tanpa terkesan mellow, dan yang terpenting menyadarkan kembali penontonnya pada sisi humanisme. Beautiful & segmented, an amazing implicit thought-provoking critique about humanism. Pertanyaan terakhir yang muncul justru terasa unik, dari skala 1-10 dimana posisi Bong Joon-Ho saat ini pada bakat yang ia miliki? Lima film memukau dalam 13 tahun, gila.
Source: BRRip
Released: 17 March 2014 (UK)
Country: UK
Language: English
Genre: Action | Thriller | War
Director: Ronnie Thompson
Writer: Ronnie Thompson
Starcast: Duncan Casey, Lee Charles, Noel Clarke
Sinopsis
I Am Soldier follows Mickey Tomlinson (Tom Hughes), a military chef, who attempts the most dangerous military selection known to man: The Special Air Service (S.A.S.) selection. The S.A.S. Is the United Kingdom's most renowned Special Forces Regiment, tasked with life threatening missions in some of the most dangerous places on the planet. Mickey has more military experience than simply being a chef, something he doesn't let on to the other candidates...
Mickey is smashed by this selection process - his mind, body and soul scream for mercy as he endures torturous speed-marches over the steepest mountains, running for his life during 'Escape and Evasion' and then facing the most evil interrogation possible, during the deadly phase known as: 'Tactical Questioning.' Even after everything, there is still only one way you can really prove yourself: in combat... Many try to get into the S.A.S. Only the elite make it.
Source: HDCAM
Released: 23 May 2014 (USA)
Country: USA | UK
Language: English | Vietnamese
Genre: Action | Adventure | Fantasy | Sci Fi
Director: Bryan Singer
Writers: Simon Kinberg (screenplay), Jane Goldman (story)
Starcast: Patrick Stewart, Ian McKellen, Hugh Jackman, Jennifer Lawrence, Halle Berry
Review
Mungkin berlebihan jika mengatakan bahwa X-Men: The Last Stand dan X-Men Origins: Wolverine hampir menamatkan riwayat franchise X-Men di layar lebar. Tapi yang jelas kedua film tersebut memang layak disebut sebagai yang terburuk dalam franchise ini. Setelah Brett Ratner merusak segala hal bagus yang diciptakan Bryan Singer dalam dua film pertama X-Men, para mutan ini memang baru mendapatkan film yang layak lagi lima tahun kemudian lewat sebuah reboot/prequel X-Men: First Class garapan Matthew Vaughn yang sukses memperkenalkan masa lalu dari Charles Xavier (Professor X) dan Erik Lensherr (Magneto). Wolverine pun pada akhirnya mendapat film solo yang lebih layak lewat The Wolverine.
Sampai pada akhirnya Bryan Singer kembali menyutradari film X-Men setelah 11 tahun "pergi". Tapi dia tidak hanya kembali karena film yang ia sutradarai bisa dibilang merupakan yang terbesar baik dari segi skala cerita, jumlah karakter, sampai bujet yang digelontorkan. Ya, Singer kembali dengan membawa sebuah ambisi besar tidak hanya untuk menciptakan film X-Men terbesar tapi juga mungkin film superhero terbesar yang bisa menandingi The Avengers.
Filmnya sendiri mengambil cerita dari komik Days of Future Past yang terbit tahun 1981 dan dianggap sebagai salah satu storyline terbaik dalam komik X-Men. Pada awalnya kita akan dibawa pada era masa depan yang begitu kelam dimana dunia dikuasai oleh robot-robot raksasa bernama Sentinel. Pada awalnya Sentinel diciptakan untuk membunuh mutan, dan itu berhasil dimana banyak mutan yang akhirnya tewas di tangan Sentinel.
Tapi lambat laun robot ini juga mulai membunuh manusia yang dari gen mereka berpotensi mempunyai keturunan mutan. Dunia pun menjadi tempat yang begitu mengerikan khususnya bagi para mutan. Para mutan yang bertahan hidup mulai menyusun rencana dibawah pimpinan Profesor X (Patrick Stewart). Mereka pun akhirnya memutuskan untuk mengirim Wolverine (Hugh Jackman) ke masa lalu tepatnya tahun 1973 dengan bantuan Kitty Pride (Ellen Page) guna memperingatkan Xavier muda (James McAvoy) tentang masa depan yang porak poranda tersebut.
Hal itu dilakukan dengan harapan mereka bisa menghentikan Bolivar Trask (Peter Dinklage) yang pada tahun 1973 sedang berencana untuk membuat Sentinel. Tapi tentu saja hal itu tidak mudah dilakukan karena pada masa itu Xavier tengah dirundung banyak duka, kehilangan kekuatannya, dan masih bersitegang luar biasa dengan Erik (Michael Fassbender) yang saat itu tengah di penjara atas tuduhan pembunuhan terhadap Presiden JFK.
Days of Future Past sudah dibuka dengan begitu luar biasa lewat gambaran masa depan yang kelam, penuh kesengsaraan dan kematian. Bahkan action sequence pembukanya pun begitu luar biasa meski sama sekali tidak menampilkan deretan mutan yang sudah punya nama besar dalam film-film sebelumnya. Tidak hanya itu, adegan tersebut juga dibalut dengan kebrutalan yang diatas rata-rata film superhero pada umumnya. Disinilah kehebatan Bryan Singer benar-benar terlihat. Disinilah pembeda nyata antara Singer dan Ratner terpampang jelas.
Disaat Brett Ratner menciptakan kekacauan saat menumpahkan banyak mutan ke dalam satu film serta banyak membunuh potensi masing-masing dari mereka, Singer justru sebaliknya. Meski banyak mutan baik lama maupun baru yang hadir, masing-masing dari mereka diberi kesempatan yang sama untuk bersinar meski kemunculannya tidak banyak seperti Storm atau Magneto-nya Ian McKellen.
Singer tahu benar potensi tiap-tiap mutan dan menggunakan itu untuk mengkoreografikan adegan aksi dengan begitu spektakuler. Hal ini membuat mutan-mutan yang memang sudah dicintai seperti Wolverine sampai Magneto-nya Fassbender tetap bersinar tapi disisi lain mutan baru seperti Blink dan Quicksilver sanggup mencuri perhatian. Dua nama yang disebut terakhir memang diluar dugaan sanggup mencuri perhatian. Sedangkan Quicksilver yang sebelum perilisan filmnya terlihat kurang meyakinkan ternyata bisa menjadi mutan yang super keren lewat rambut abu-abu, walkman, serta tingkah semaunya sendiri itu.
Kini menjadi tugas berat bagi Joss Whedon untuk menciptakan Quicksilver yang setidaknya tidak kalah keren dalam Avengers: Age of Ultron. Kabar baiknya, Days of Future Past bukanlah kemunculan pertama dan terakhir mereka, karena keduanya akan kembali lagi dalam sekuel-sekuel berikutnya. Film ini juga masih punya love/hate relationship dengan chemistry kuat yang dimiliki McAvoy dan Fassbender.
Hugh Jackman masih memikat seperti biasa lewat mulutnya yang kadang masih susah dikontrol dan sering melontarkan lelucon demi lelucon. Jenffier Lawrence dan Peter Dinklage makin melengkapi jajaran cast yang bermain luar biasa dalam film ini. J-Law membuktikan bahwa Mystique bukan hanya sosok bersisik biru tapi juga dengan kedalaman emosi. Sedangkan Dinklage sebagai Bolivar mungkin bukan villain yang mengancam lewat kemampuan fisiknya, tapi sosoknya tetap bisa menebar ancaman dalam tiap kemunculannya.
Singer pun berhasil memaksimalkan kapasitas akting para pemainnya yang seabrek itu dengan keberhasilannya merangkum aspek drama dalam film ini. Singer tidak melupakan aspek penting yang sering ditinggalkan banyak sutradara film aksi, yakni memberikan karakter yang dipedulikan penonton. Dengan memberikan hal itu, ketegangan yang tersaji dalam tiap adegan aksinya pun makin bertambah karena penonton merasakan kepedulian dan simpati pada karakter yang ada.
Pada akhirnya, klimaks yang menampilkan pertempuran di masa lalu dan masa depan sama-sama terasa begitu luar biasa, lebih cepat, lebih intens, lebih brutal dan terasa cukup tragis. Begitulah, Singer sukses menciptakan sebuah film X-Men yang luar biasa. Tapi keberhasilan Singer bukan hanya itu. Tidak hanya sukses menciptakan sebuah film X-Men yang bagus, dia juga sanggup memperbaiki banyak hal yang kacau dalam universe film X-Men selama ini. X-Men: The Last Stand memang banyak "mengacaukan" dunia X-Men, dan Singer memanfaatkan dengan baik tema time travel yang ada untuk memperbaiki segala kekacauan tersebut. Dan di akhir credit scene akan menampilkan calon villain bagi sekuelnya, X-Men: Apocalypse yang akan rilis tahun 2016. Kabarnya sekuel yang bakal menampilkan Apocalypse sang mutan tertua di muka bumi tersebut akan lebih besar dan lebih masif dari Days of Future Past.